Makalah Hadist Mutawatir


            Hadist adalah berita yang datang dari Nabi SAW, sedangkan makna pertama dalam konteks teologis bukan konteks ilmu hadist. Menurut Abu Al-Baqa’, hadist adalah kata benda (isim) dari kata at-tahdist yang diartikan ak-ikhbar (pemberitauan), kemudian menjadi nama suatu perkataan, perbuatan, dan persetujuan yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW. Pemberitaan, yang merupakan makna dari kata hadist sudah dikenal orang Arab seja jahiliyah, yaitu untuk menunjuk hari-hari yang populer dengan nama al-ahadist.[1] Dalam hal ini hadist dapat dilihat dari segi kuantitas dan dari segi kualitasnya.

            Ulama berbeda pendapat tentang pembaian hadist ditinjau dari segi kuantitas. Tinjauan dari segi kuantitas di sini adala dengan menelusuri jumla para perawi yang menjadi sumber adanya suatu hadist. Para ahli ada yang mengelompokkan menjai tiga baian, yakni hadist mutawatir, masyur dan ahad, dan ada juga yang membainya hanya menjadi dua, yakni hadist mutawatir dan ahad.[2]

            Pendapat pertama, yang menjadikan hadist masyur berdiri sendiri, tidak termasuk bagian dari hadist ahad, dianut oleh sebagian ulama ushul, di antaranya adalah Abu Bakar Al-jassas (305-370 H). Sedang ulama golongan keduan diikuti oleh kebanyakan ulama ushul dan ulama kalam. Menurut mereka, hadist masyur bukan merupakan hadist yang berdiri sendiri, akan tetapi hanya bagian dari hadist ahad. Mereka membai hadist menjadi dua bagian, mutawatir dan ahad.

B.     Rumusan Masalah

1.    Apa arti hadist dan pembagian dari hadist mutawatir ?

2.    Apa arti hadist dan pembagian dari hadist ahad ?

3.    Apa arti hadist dan pembagian dari hadist masyur ?

 

C.    Tujuan

1.    Untuk mengetahui arti dan pembagian dari Hadist Mutawatir.

2.    Untuk mengetahui arti dan pembagian dari Hadist Ahad.

3.    Untuk mengetahui arti dan pembagian dari Hadist Masyur.


D. 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.    Hadist Mutawatir

 

1.      Pengertian Hadist Mutawatir

 

Hadist mutawatir adalah hadist yang diriwayatkan oleh sejumlah orang yang tidak terbatas jumlanya, mulai dari awal sanad sampai akhir sanad.[3] Secara bahasa dan istilah  hadist muawatir adalah sebagai berikut.

لغة : هو اسم فاعل مثتق من التواتر اي التتابع

واصطلاجا : ما رواه عددكثير تحيل العادة تواطؤهم على الكذب.

 

Secara bahasa kata “mutawatir” berbentuk isim fa’il musytaq [4]kata “tawatur” yang bermakna “berturut-turut atau berurutan”. Sedangkan secara istilah, hadist mutawatir adalah hadist yang diriwayatkan oleh sejumlah orang yang menurut adat kebiasaan. [5]Hanya saja, para ulama hadist berbeda pendapat mengenai jumlah periwayat hadist mutawatir. Pendapat mereka bervariasi dari empat, lima, sepuluh, dua belas, dua pula, hingga empat puluh, tujuh puluh, dan bahkan tiga ratus tiga belas periwayat laki-laki dan dua orang perempuan. Semua pendapat ini sebenarnya didasarkan pada ayat Al-Qur’an, namun seluruhnya tidak berdasakan ayat kandungannya (sharih ad-dalalah). [6]Oleh karena itu, ibn Hajar berpendapat bahwa definisi mengenai hadist mutawatir tidak perlu disertai dengan ketentuan mengenai jumlah periwaytnya.[7]

Sebenarnya hadist menurut istilah selain di atas terdapat beberapa definisi, antara lain sebagai berikut :

مَا رَوَهُ جَمْعٌ تُحِيْلُ العَادَةُ تَوَاطُؤُهم عَلَى الكَذِبِ عَنْ مِثْلِهِم مِن أَوَّلِ السنَدِ إلى مُنتَهَاهُ

 

hadist yang diriwayatkan oleh sejumlah orang besar orang yang menurut adat mustahil mereka bersepakat terlebih dahulu untuk berdusta. Sejak awal sanad sampai akhir sanad, pada setiap tingkat (Thabaqat)”.[8]

Sementara Nur ad-Din Atar mendefinisikan

الذِيْ رَوَاهُ جَمْعٌ كَثِيْرٌ لاَ يُمْكِنُ تَوَاطُؤُهُمْ على الكَذِبِ عن مثْلهِمْ إِلى انتِهَاءِ السَنَدِ وَ كَانَ مُستَنَدُ هُمْ الحِسذُ .

 

“Hadist yang diriwayatkan oleh sejumlah besar orang yang terhindar dari kesepakatan mereka untuk berdusta (sejak awal sanad) sampai akhir sanad dengan didasarkan pada panca indera”.[9]

Definisi di atas menunjukan bahwa hadist mutawatir adalah hadist yang diriwaytkan oleh periwayat yang banyak pada setiap tingkatan atau setiap generasi sanadnya yang menurut adat kebiasaan tidak mungkin mereka sepakat berdusta untuk membuat hadist yang besangkutan.

Imam Nawawi [10]mendefinisikan hadist mutawtir dengan :

ما نقله من يحصل العلم بصدقهم ضرورة عن مثلهم من أوله الى آخره

 

hadist yang diriwayatkan oleh (sejumlah) periwayat dari periwayat yang sama keaadaanya dengan mereka mulai dari awal sanadnya dengan mereka mulai dari awal sanadnya sampai akhir sanadnya, yang memberikan ilmu (keyakinan) secara pasti bahwa yang mereka sampaikan adalah benar”.

Definisi yang lebih lengkap dikemukakan oleh Muhammad ‘ajjaj al-Khathib[11], yaitu:

ما رواه جمع تحيل العادة تواطؤهم على الكذب عن مثلهم من أول السند الى منتهاه على أن لا يختل هذا الجمع في اي طبقط من طبقة من طبقات السند

hadist yang diriwaytkan oleh sejumlah periwayat yang menurut adat kebiasaan tidak mungkin mereka sepakat berdusta (tentang hadist yang diriwayatkan), (yang diterimannya) dari sejumlah periwayat yang sepadan semenjak sanad pertama sampai sanad terakhir dengan syarat jumlah tersebut tidak kurang pada setiap tingkatan sanadnya”.

Berdasarkan beberapa definisi di atas dapat diketahui bahwa hadist mutawatir merupakan hadist yang diriwayatkan oleh sejumlah periwayat yang menurut adat kebiasaan mustahil (tidak mungkin) mereka sepakat berdusta. Hadist ini diriwayatkan oleh banyak periwayat pada awal, tengah , sampai akhir sanad. Sandaran beritanya didasarkan kepada pancaindera, seperti disaksikan (dilihat) maupun didengar.[12]

 

2.      Syart-syarat Hadist Mutawatir

 

Mengenai syarat-syarat hadist mutawatir ini, yang terlebih dahulu merincinya adalah ulama ushul. Sementara para ahli hadist tidak begitu banyak merinci pembahasan tentang hadist mutawatir dan syarat-syaratnya tersebut.karena menurut ulama ahli hadist, khabar Mutawatir [13]yang sedemikian sifatnya, tidak termasuk ke dalam pembahasan ‘ilmu Al-isnad[14], yaitu sebuah disiplin ilmu yang membicarakan tentang shahih atau tidaknya suatu hadist, diamalkan atau tidaknya, dan juga membicarakan sifat-sifat rijalnya yakni para pihak yang banyak berkempung dalam periwayatan hadist, dan tata cara penyampaian. Padahal dalam kaian hadist mutawatir tidak dibicarakan masalah-masalah tersebut. Karena bila telah diketahui statusnya sebaai hadist mutawatir, maka wajib diyakini kebenarannya, diamalkan kandungannya, dan tidak boleh ada keraguan.

Sedangkan menurut ulama mutaakhirin[15], ahli ushul, suatu hadist dapat ditetapkan sebagai Hadist Mutawatir, bila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

 

a.      Diriwayatkan oleh Sejumlah Besar Perawi

 

Hadist Mutawatir harus diriwayatkan oleh sejumlah besar perawi yang membawa kepada keyakinan bahwa mereka itu tidak mungkin bersepakat untuk berdusta. Mengenai masalah ini para ulama berbeda pendapat. Ada yang menerapkan jumlah tertentu dan ada yang tidak menentukan jumlah tertentu. Menurut ulama yang tidak mensyaratkan jumlah tertentu, yang penting dengan jumlah itu, menurut adat, dapat memberikan keyakinan terhadap apa yang diberikan dan mustahil mereka sepakat untuk berdusta.

Ada juga yang mengatakan bahwa jumlah perawi yang di perlukan dalam hadist Mutawatir minimal 40 orang, berdasarkan firman Allah SWT:

يَأَيُهَا النَّبِيُّ حَسبكَ ا لله وَ مَنِ اتَّبَعَكَ من المُؤْمنيْنَ (الأنفال/ 8 : 64)

 

Wahai Nabi, cukuplah Allah dan orang-orang mukmin yang mengikutimu. (QS. Al-Anfal (8) : 64)

Saat ayat ini diturunkan jumlah umat islam baru mencapai 40 orang. Hal ini sesuai dengan hadist riwayat AL-Thabrary dan ibn ‘Abbas, ia berkata: “telah masuk Islam bersama Rasullulah sebanyak 33 laki-lai dan 6 orang perempuan. Kemudian Umar masuk islam, maka jadilah 40 orang.

Penentuan jumlah-jumlah tertentu sebagaimana disebutkan di atas, sebetulnya bukan merupakan hal yang prinsip, sebab persoalan pokok yang dijadikan ukuran untuk menetapkan sedikit atau banyaknya jumlah Hadist Mutawatir tersebut bukan terbatas pada jumlah, tetapi diukur pada tercapainya ilmu dharuri[16]. Sekalipun jumlah perawinya tidak banyak (tapi melebihi batas minimal yakni 5 orang). Asalkan telah memberikan keyakinan berita yang mereka sampaikan itu bukan kebohongan, sudah dapat di masukkan sebaai hadist mutawatir.

 

b.      Adanya Keseimbangan Antar Perawi Pada Thabaqat Pertama dengan Thabaqat Berikutnya

 

Jumlah perawi hadist mutawatir, antara Thabaqat (lapisan atau tingkatan) dengan thobaqat lainnya harus seimbang. Dengan demikian, bila suatu hadist diriwayatkan oleh dua puluh orang sahabat, kemudian diterima oleh sepuluh tabi’in, [17]dan selanjutnya hanya diterima oleh lima tabi’in, tidak dapat digolongkan sebagai hadist mutawatir, sebab jumlah perawinya tidak seimbang antara thabaqat pertama dengan thabaqat-thabaqat seterusnya.

Akan tetapi ada juga yang berpendapat, bahwa keseimbangan jumlah perawi pada tiap thabaqat tidaklah terlallu penting. Sebab yang diinginkan dengan banyaknya perawi adalah terhindarnya kemungkinan berbohong.

Sedangkan Rajaa Musta Khazin san Sa’diyah Ahmad Fuad mengatakan bahwa hadist Mutawatir tidak akan terealisir dengan empat syarat yaitu:

1.      أن يرويه عدد كثير

2.      أن توجد هذه الكثرة في جميع طبقات السند

3.      أن تحيل العادة اتفا قهم على الكذب

4.      أن يكون مستند حد يثمهم الحسن كقولهم : سمعنا أو رأين أو لمسنا أو نحو ذلك

 

Dengan demikian jelaslah bahwa suatu hadist bisa mencapai derajat Mutawatir jika syarat-syarat itu terpenuhi.[18]

 

c.       Berdasarkan Tanggapan Pancaindera

 

Berita yang disampaikan oleh periwatnya tersebut harus berdasarkan tanggapan pancaindera. Artinya bahwa berita mereka sampaikan itu harus benar-benar hasil pendengaran atau penglihatnnya sendiri. Oleh karena itu, bila berita itu merupakan hasil renungan, pemikiran atau rangkuman dari suatu peristiwa lain ataupun hasil istinbat [19]dari dalil yang lain, maka tidak dapat dikatakan hadis Mutawatir, misalnya berita tentang alam semesta yang berpijak pada pemikiran bahwa setiap benda yang rusak itu baharu, maka berita seperti ini tidak dapat dikatakan Hadist Mutawatir. Demikian juga berita tentang ke-Esa-an Tuhan menurut hasil pemikiran pada filosof , tidak dapat digolongkan sebagai hadist mutawatir.

Jumlah hadist mutawatir jika dibandingkan dengan jumlah hadist secara keseluruhan sangat sedikit. Hadist-hadist jenis ini dapat diketahui melalui kitab-kitab seperti: al-ahzar al-mutanatsir fi Akhbar al-mutanawirah[20], karya As-Suyuthi. Qathf al-azhar, karya As-suyuthi, dan Nazm al-mutanatsir min al-hadist al-mutawatir, karya Muhammad ibn Ja’far al-Khattani.[21]

 

3.      Pembagian Hadist Mutawatir

 

Menurut sebagian ulama. Hadist mutawatir itu terbagi menjadi dua, yaitu mutawatir lafzhi dan mutawatir ma’nawi. Namun ada juga yang membaginya menjadi tiga, yakni ditambah dengan hadist mutawatir ‘amali.

a.      Mutawatir Lafdzi

Hadist mutawatir lafdzi adalah hadist yang mutawatir lafaz dan maknanya (ما تواتر لفظه و معناه ) . [22]

Menurut Muhammad Ajjaj al-khathib, hadist mutawatir lafzi adalah :

ما رواه بلفظه جمع عن لا يتوهم تواطؤهم على الكذب من أوله الى آخره

 

hadist yang diriwayatkan secara lafadz oleh sejumlah orang periwayat dari sejumlah periwayat yang lain, yang mustahil mereka sepakat untuk berdusta, dari awal sampai akhir sanad”.

 

Berhubung hadist mutawatir lafzi mensyaratkan :

1.      Matan hadist yang diriwayatkan menggunakan redaksi[23] yang sama

2.      Periwayat yang meriwayatkan hadist sejak awal sampai akhir sanad harus banyak, maka hadist mutawatir lafzi ini tidak banyak jumlahnya.

Contoh hadist Mutawatir lafdzi adalah

مَنْ كَذبَ عَلى مُتَعَمِدًا فَلْيَتَبَوأ مَقْعَدَهُ مِنَ النارِ[24]

Barangsiapa yang berbuat dusta kepadaku dengan sengaja hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka.”

Hadist tersebut diriwayatkan oleh segolongan banyak sahabat. Menurut sebagian yang hafal hadist, hadist tersebut diriwayahkan dari Nabi saw oleh enam puluh dua sahabat, dan di antara mereka terdapat sepuluh orang sahabat[25] yang sudah diakui Nabi saw masuk surga. Menurut Ibnu AL-Shalah, bahwa hadist mutawatir ladzi itu langka. Menurut sebagian yang lain menyatakan, hadist ini diriwayatkan oleh hampir dua ratus sahabat. Ibrahim Al-Harabi dan Abu Bakar Al-bazari mengatakan, hadist ini diriwayatkan oleh empat puluh sahabat.[26] Abu Al-qasim ibn Manduh berpendapat bahwa hadist ini diriwayatkan oleh lebih dari delapan puluh orang. Ada juga yang menyatakan, diriwayatkan oleh seratus sahabat.

Contoh lain adalah hadist yang diriwayatkan oleh Imam ahmad dan Al-Tirmidzi:

قال يَا مُحَمَّدُ إِنَّ القُرْآنَ أُنْزِلَ على سَبْعَةِ أَحْرُفٍ

Al-Qur’an diturunkan atas tujuh huruf (tujuh macam bacaan)” .

Hadist ini diriwayatkan oleh dua puluh tujuh sahabat.[27]

Contoh hadist mutawatir lafdzi yang populer – meski menurut beberapa informasi bahwa hadist tersebut sebenarnya tidak benar-benar sama redaksinya – adalah hadist tentang ancaman Rasulullah terhadap orang yang melakukan kebohongan atas nama beliau, sebagai berikut:[28]

حَدَّشَا عَمْرُو بْنُ عَوْنٍ أخْبَرَنَا خَالِدٌ ح و حَدَّشَا مُسَدَّدٌ حَدَّشا خَالِدٌ المَعْنَى عن بَيَانِ بنِ بشْر قال مسدَّدٌ أَبُو بشرٍ عن و برةُ بن عَبدِ الرَّحْمنِ عنْ عامِرِ بن عبدِ الله بنِ الزُّبَيْرِ عن أَبيه قال قُلْتُ للزُّبَيرِ ما يَمْعُكِ أن تُحَدِثَ عن رَسولِ الله صلى الله عليه وسلم كما يُحَدِّثُ عَنهُ أَصحابُهُ فَقَالَ أَما واللهِ لقد كان لي منهُ وجهُ ومنزِلةٌ و لكنِّي سمعته يقولُ من كَذبَ عليَّ مُتَعَمِّدٌ فليتوَّأْ مقْعَدَهُ من النارِ ( ابو داود )

b.       mutawatir ma’nawi

 

hadist mutawatir ma’nawi adalah hadist mutawatir yang maknanya sama akan tetapi radaksinya berbeda. Muhammad ‘ajjal al-khattib mendefinisikan hadist mutawatir ma’nawi dengan :

 

ما اتفق نقلنه على معناه من غير مطابقة في اللفظ

“ hadist yang periwatannya disepakati maknannya, tetapi tidak sesuai pada lafadznya.”

Al-Suyuthi [29]mendefinisikan hadist mutawatir ma’nawi dengan:

أن ينقل جماعة يستحيل تواطؤهم على الكذب و قائع مختلفة تشترك في أمر معين

 

hadist yang diriwayatkan oleh periwayat yang banyak yang mustahil mereka sepakat untuk berdusta atas beberapa peristiwa dalam berbagai bentuk, namun bertemu pada permasalahan yang sama.”

Misalnya, seseorang meriwayatkan, bahwa Hatim umpamanya memberikan seekor unta kepada seorang laki-lai. Sementara yang lain meriwayatkan, bahwa Hatim memberi dinar kepada seorang laki-lai, dan demikian seterusnya.

Dari riwayat-riwayat tersebut kita dapat memahami, bahwa Hatim adalah seorang pemurah. Sifatnya pemurah Hatim ini kita pahami melalui jalan khabbar mutawatir ma’nawi.

Contoh hadist mutawatir ma’nawi, antara lain adalah hadist yang meriwayatkan bahwa Nabi SAW. Mengangkat tangannya ketika berdo’a.[30]

 

 

قال أَبُو مُوسَى الأَشْعَرِيُّ دَعا النبيُّ صلى الله عليه وسلمَ ثم رَفَعَ يَدَيهِ وَرَأيْتُ بَيَاض إِبْطَيْهِ (رواه البخاري)

 

Abu Musa al-Asy’ari[31] berkata: Nabi SAW, berdoa kemudian dia mengangkat kedua tangannya dan aku melihat putih-putih kedua ketiaknya.”[32]

 

Hadist semacam ini diriwayatkan dari Nabi SAW berjumlah sekitar seratus hadist dengan redaksi yang berbeda-beda, tetapi mempunyai titik persamaan, yakni keadaan Nabi SAW mengangkat saat berdo’a. Dalam bentuk lain di jumpai susunannya sebagai berikut:

كن يرفع يديه حذو منكبيه

“ Rasulullah Saw. Mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua pundak beliau.”

Imam Al-suyuti mengatakan, bahwa hadist-hadist ini telah dihimpun dalam satu juz namun dalam pembahasan masalah yang berbeda-beda. Setiap masalah secara kuantitatif [33]tidak mencapai tingkat mutawatir, namun dari yang tersirat dalam setiap hadist-hadist tersebut (Nabi Saw mengangkat kedua tangannya sewaktu berdoa) ditinjau dari sisi terhimpunnya hadist-hadist, hal itu bisa mencapai tingkat mutawatir maknawi.

 

c.       Mutawatir Amali

 

Adapun yang dimaksud dengan hadist mtawatir ‘amali adalah:

 

مَا عُلِمَ مِنَ الذين بِالضرُوْرَةِ وَتَواتُرُبَيْنَ المُسْلِميْنَ أَنْ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَعَلَهُ أَوْ أَمَرَ بِهِ أَو غيرَ ذَلِكَ وَهُوَالذِي يَنْطَبِقُ عليه تَعْرِفُ الإِجْماعِ إنْطباقًا صَحِيْحًا .

 

Sesuatu yang diketahui dengan mudah, bahwa dia termasuk urusan agama dan telah mutawatir antara umat islam, bahwa Nabi SAW mengerjakan, menyuruhnya, atau selain dari itu dan pengertian ini sesuai dengan ta’rif ijma’[34].

 

Hadist mutawatir amali adalah hadist tentang qath’i al wurud [35]pasti bersumber dari Nabi Saw, kemudian diikuti oleh para sahabat secara keseluruhan, lalu oleh para tabi’in, dan oleh generasi demi generasi sampai sekarang. Seperti hadist-hadist tentang waktu-waktu shalat, tentang jumlah rakaat shalat, dan tentang pelaksanaan shalat jenazah.

Contoh hadist mutawati’amali:

عَنْ عبدِ الله بْن عَمْرِوٍ رضي الله عنهما أنَّ نَبِيَّ الله صلى الله عليه وسلم قال : (وَقْتُ الظُّهْرِ إذ زَلثَ الشَّمْسُ وَكان ظِلُّ الرَّجُلِ كَطُوْلهِ ما لم يَخْضُرْ العَصْرُ ووقتُ العَصْرِ ما لم تصفرَّ الشَّمءسُ ووقت صلاةِ المَغْرِبِ ما لم يغرب الشَّفَقُ ووقتُ صلاةِ العِشاءِ إلى نصف الليلِ الأوْسَطِ ووقتُ صلاةِ الصبْحِ من طلوعِ الفجرِ ما لم تَطْلُعْ الشَّمْسُ (رواه مسلمٌ)

[36]

Dari Abdulla Ibn Amr Radiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda:waktu sholat dhuhur ialah jika matahari telah condong (ke barat) dan bayangan seseorang sama dengan tingginya selama waktu ashar belum tiba, waktu ashar masuk selama matahri belum mengkuning, waktu magrib selama awan merah belum menghilang, waktu shalat isya’ hingga tengah malam dan waktu shalat shubuh semenja terbitnya fajar hungga matahari belum terbit.” Riwayat Muslim

 

B.     Hadist Ahad

 

1.      Pengertian Ahad

Terdapat definisi etimologis tentang hadist ahad, baik secara bahasa maupun istilah. Pengertian hadist ahad menurut bahasa dan istilah adalah sebagai berikut :

 

خبر الأحاد لغة : الأحاد جمع أحد يمعنى الواحد و خبر الواحد و خبر الواحد هو ما يروين شخص واحد.

Secara bahasa, kata “ahad” merupakan bentuk plural[37] dari kata “ahad” yang bermakna satu, sedangkan khabbar “ahad” adalah khabbar yang diriwayatkan oleh satu orang”.

 

و إصطلاحا : هو مالم يجمع شروط المتواتر.

Secara istilah haist ahad adalah hadist yang tida memenuhi syarat-syarat hadist mutawatir”.[38]

Al-Ahad jama’ dari ahad, menurut baasa al-wahid atau satu. Dengan demikian Khabbar wahid adalah suatu berita yang disampaikan oleh satu orang.

Sedangkan yang dimaksud dengan hadist ahad menurut istilah, banyak didefinisikan para ulama, antara lain sebagai berikut:

 

مَالَمْ تَبْلُغُ نَقْلَتُهُ فى الكَثْرَةِ مَبْلَغَ الخَبَرِ المتَوترْ سَوَاءٌ كَانَ المُخْبِرُ وَاحِدًا أَوْ اثنَيْنِ أَوْ ثَلاثَا أو أَرْبَعَةً أَوْ خَمْسَةَ اَو إِلى غيْرِ ذَلك من الأعدادِ التي لا تَشْعُرُ بِأَن الخبَرَ دخل بها في خَبَرِ المتواترِ .[39]

 

Khabbar yang jumlah perawinya tidak mencapai batasan jumlah perawi hadist mutawatir, baik perawi itu satu, dua tiga, empat, lima, dan seterusnya yang tidak memberikan pengertian bahwa jumlah perawi tersebut tidak sampai kepada jumlah hadist mutawatir”.

           

Ada juga ulama yang mendefinisikan hadist ahad secara singkat, yakni hadist yang tidak memenuhi syarat-syarat hadist muatawatir. Hadist selain hadist mutawatir, atau hadist yang sanadnya sah [40]dan bersambung hingga sampai kepada sumber nya (nabi) tetapi kandungannya memberikan pengertian zhanni [41]dan tidak tidak smapai kepada qath’i dan yakin.

Dari beberapa definisi di atas, jelas bahwa di samping jumlah perawi hadist ahad tidak sampai kepada jumlah perawi hadist mutawatir, kandungannya pun bersifat zhanni dan tidak bersifat qath’i.

Kecenderungan para ulama mendefinisikan hadist ahad seperti tersebut di atas, karena dilihat dari  jumlah perawinya ini, hadist ini menjadi dua, yaitu hadist mutawatir dan hadist ahad. Pengertian ini berbeda dengan pengertian hadist ahad menurut ulama yang membedakan hadist menjadi tiga, yaitu hadist mutawatir, masyur dan ahad. Menurut mereka (ulama yang disebut terakhir ini) bahwa yang disebut dengan hadist ahad adalah :

 

مَرَوَاهُ الوَاحدُ أَو الإثنانِ فأكْثَرَ مما لم تتوا فر فيهِ شُرُؤْطُ المَشْهُوْرِ اَو متواترِ .

 

Hadist yang diriwayatkan oleh satu orang atau lebih, yang jumlanya tidak memenuhi persyaratan hadist masyur dan hadist mutawatir”.

Muhammad Abu Zahrah [42]mendefinisikan sebagai berikut:

 

كُلُّ خَبَرٍ يَرْوِيْهِ الواحدُ أَو الإسنان او الأكثر عن الرَّسوْلِ صلى الله وسلم و لا يتوافرُ فيه شُرُوْطُ المشَهْرُوْرِ .

 

Tiap-tiap khabar yang diriwayatkan oleh satu, dua orang atau lebih diterima dari Rosullulah SAW dan tidak memenuhi persyaratan hadist Masyur”.

 

Abdul Wahab Khalaf menyebutkan bahwa hadist ahad adalah hadist yang diriwayatkan oleh satu, dua orang atau sejumlah orang tetapi jumlahnya tidak sampai kepada jumlah perawi hadist mutawatir. Keadaan perawi seperti ini terjadi sejak perawi pertama sampai perawi terakhir”.

Jumhur ulama’ [43]sepakat bahwa beramal dengan hadist ahad yang telah memenuhi ketentuan maqbul [44]hukumnya wajib. Abu Hanifah, Imam Al-Syafi’i dan imam Ahmad memakai hadist ahad bila syarat-syarat periwayatan yang shahih terpenuhi. Hanya saja abu Hanifah [45]menetapkan syarat tsiqqah [46]dan adil bagi perawinya serta amaliahnya tidak menyalahi hadist yang diriwayatkan. Oleh karena itu, hadist yang menerangkan proses pencucian sesuatu yang terkena jilatan anjing dengan tujuh kali basuhan yang salah satunya harus dicampur dengan debu yang suci tidak digunakan, sebab perawinnya yakni Abu Hurairah, tidak mengamalkannya. Sedang Imam Malik menetapkan persyaratan bahwa perawi hadist ahad tidak sampai menyalahi amalan ahli madinah.[47]

Sedangkan golongan Qodariyah[48], Rafidhah dan sebagian ahli Zhahir menetapkan bahwa beramal dengan dasar hadist ahad hukumnya tidak wajib. Al-Juba’i dari golongan Mu’tazilah menetapkan tidak waib berama kecuali berdasarkan hadist yang di riwayatkan oleh dua orang yang diterima dari dua orang.

Sementara yang lain mengatakan tidak waib beramal kecuali hadist yang diriwayatkan oleh empat orang dan diriwayatkan oleh empat orang pula.

Untuk menjawa golongan yang tidak memakai hadist ahad sebagai dasar beramal. Ibnu AL-Qayim mengatakan: “ada tiga segi keterkaitan sunnah dengan alqur’an yaitu: Pertama, kesesuaian terhadap ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam al-qur’an., Kedua, menjelaskan maksud al-Qur’an, Ketiga, menetapkan hukum yang tidak terdapat dalam al-Qur’an. Alternatif ketiga ini merupakan ketentuan yang ditetapkan oleh Rasullullah yang wajib ditaati. Lebih dari itu ada yang menetapkan bahwa dasar beramal dengan hadist ahad adalah al-Qu’an, Sunnah dan ijma’.

Hadist ahad yang dijadikan dasar beramal adalah adalah yang memenuhi syarat, yang dikenal sebagai hadist shahih, lebih dari dua puluh alasan dikemukakan oleh Musthafa al-Siba’i bahwa hadist Ahad diperlukan sebagai dasar syari’at Islam. Antara lain:

1.      Diriwayatkan oleh Imam Malik [49]dari Ishaq ibn Abi Thalhah dari Anas ibn Malik yang mengatakan, “ Aku perna memberi Abu Thalhah, Abu ‘Ubaidah ibn al-Jarrah dan Ubai ibn Ka’b minumandari perasan anggur dan kurma, “ kemudian seseorang datang dan berkata, “sesungguhnya Khamar itu telah diharamkan.” Maka Abu Thalhah berkata, “Hai Anas, buanglah dan ambil botol itu, dan pecahkan!” Kemudian minuman itu dibuang dan botol pun dipecahkan.

Sebelum datang larangan ini. Masyarakat memahami bawa minuman keras itu boleh diminum. Beberapa orang yang disebut di dalam riwayat ini termasuk yang berpengetahuan seperti ini. Kedatangan seseorang dengan sebuah berita membuat mereka mempercayai berita tersebut, kendati diriiwayatkan secara Ahad.

 

2.      Hukuman potong tangan dapat dijatuhkan kepada pencuri yang mencuri harta genap satu nishab apabila dipersaksikan oleh sekurang-kurangnya dua orang saksi terpercaya. Kesaksian dua orang saksi juga menggambarkan bahwa sebenarnya riwayat (kesaksian) mereka termasuk berita Ahad juga.[50]

 

Jumlah rawi dari masing-masing thabaqah, mungkin satu orang, dua orang, tiga orang, atau malah lebuh banyak, namun tidak sampai pada tingkat mutawatir.

Berdasarkan jumlah dari thabaqah masing-masing rawi, hadist ahad ini dapat dibagi menjadi tiga macam, yaitu masyur di dalam hadist masyur terdapat hadist aziz dan hadist gharib.

 

a.      Hadist Masyur

 

1)      Pengertian Hadist masyur

Menurut bahasa, masyur adalah muntasyir, yaitu sesuatu yang sudah tersebar, sudah populer. [51]Adapun menurut istilah, hadist masyur adalah:

 

مَا رَوَاهُ ثَلاثةٌ فأكثر في كلِ طبقَةٍ ما لَمْ يَبْلُغْ حَدَّ التَوَاتُرِ .

“Hadist yang diriwayatkan oleh tiga orang atau pada setiap thabaqah tidak mencapai derajat mutawatir”.

 

Secara istilah, hadist masyur adala hadist yang diriwayatkan oleh tiga orang atau lebih dari setiap generasi, akan tetapi tidak mencapai jumlah mutawatir. Jika diteliti lebih lanjut, sebenarnya haist masyur ini tidak semuanya berkualitas shaih, karena jumlah perawi yang demikian belum tentu menjamin keshahihannya kecuali disertai sifat-sifat yang menjadikan sanad ataupun matannya shaih. Dengan demikian haist masyur dapat dikelompokkan kepada yang berkualitas shahih, hasan dan dhaif.

Contoh hadist Masyur Shahih, seperti hadist Ibnu ‘Umar

اذا جَاء أحدُكُم الجمُعَةَ فليَغْتَسلُ (رواه البخارى)

“Bagi siapa yang hendak pergi melaksanakan shalat jum’at, hendaknya ia mandi”. [52]

Contoh lain adalah ‘Abdullah ibn Amr ibn Al-Ash mendengar langsung Rasul SAW bersabda:

 

إن الله لا يَقْبِضُ العلم َ إنتِزاعًا يَنتَزِعُهُ مِن العِبادِ ولكن يَقبِضُ العلمَ بِقبضِ العلماءِ حتى إذا لم يُبقِ عالِمًا اتخَذَ الناسُ رُحوْسًا جُهَّالا فَسُئلُوا فأفتَوْا بغَيْرِ علمٍ فضلُّوا و أَضلُّوا (رواه البخارى)

“sesungguhnya Allah SWT tidak mencabut ilmu pengetauan, langasung mencabutnya dari hambanya, akan tetapi Allah mencabutnya dengan mencabut ulama’, sehingga apabila tiada seorang alim tertinggal, para manusia menjadikan pemimpin mereka orang-orang yang jahil. Mereka (para pemimpin) ditanya soal-soal agama dan mereka meberikan fatwa dengan tanpa berdasarkan pada ilmu. Karenanya mereka sesat dan menyesatkan”. (H.R. Bukhari[53])

 

Sedangkan yang dimaksud dengan hadist masyur hasan[54] adalah hadist yang telah memenuhi ketentuan-ketentuan hadist hasan, baik mengenai sanad maupun matannya, seperti sabda Rasulullah SAW.

لا ضرَرَ وَ لا ضِرارَ

“Jangan melakukan perbuatan yang berbahaya (bagi diri dan orang lain)”.

 

Adapun yang dimaksud dengan hadist masyur dha’if adalah hadist masyur yang tidak mempunyai syarat-syarat hadist shahih dan hasan, baik pada sanad maupun ada matannya, seperti hadist:

 

طلبُ العلمِ فَرِضَةٌ على كلِّ و مسلمَةٍ

“Menurut ilmu wajib bai muslim laki-laki dan perempuan”.

 

 

2)      Klasifikasi hadist masyur

Istilah masyur yang diterapkan pada suatu hadist kadang bukan untuk memberikan sifat-sifat hadist menurut ketetapan di atas, yakni banyaknya rawi yang meriwayatkan suatu  hadist, tetapi diterapkan juga untuk memberikan sifat suatu hadist yang mempunyai ketenaran di kalangan para ahli ilmu tertentu atau kalangan masyarakat ramai. Dari tujuan inilah meneybabkan ada suatu hadist bila dilihat dari bilangan rawinya tidak dapat dikatakan sebagai hadist masyur, tetapi bila dilihat dari kepopulerannya tergolong hadist masyur.

Dari segi inilah, hadist masyur dapat digolongkan kepada:

 

a.       Masyur dikalangan para muhaditsin[55] dan lainnya (golongan ulama ahli ilmu dan orang umum, seperti hadist:

عن عَبْدِ الله بن عمْرٍو رضي الله عنهما عنِ النبيِّ صلى الله عليه و سلم قال : المسلِمُ مَن سَلمَ المسلمُونَ مِن لِسانهِ و يَدِهِ . (رواه البخاري و مسلم)

“Seorang muslim adalah orang yang menyelamatkan sesama muslim lainnya dari gangguan lidah dan tangannya”. (H.R. Bukhori dan Muslim)[56]

 

عن أنس رضي الله عنه قال قنت النبي صلى الله عليه و سلم بعد الركوع شهرا على يَدْعو على رِعلٍ وَ ذَكْوَانَ (رواه البخاري)

 

b.      Masyur di kalangan ahli ilmu, misalnya masyur di kalangan ahli fiqh

 

Contoh hadist yang termasyur di kalangan ulama ushul fiqh

 

رُفِعَ عن أُمَّتي الخطاءُ والنسيانُ و ما السْتُكْرِهُوْا

“Terangkanlah (dosa) dari umatku, kekeliruan, lupa, dan perbuatan yang mereka lakukan karena terpaksa”. (H.R. At-Thabrani dari ibnu Abbas)

[57]

c.       Masyur di kalangan masyarakat umum, seperti hadist:

 

لِلسَّاءِلُ حقٌّ وَ إِنْ جَاءَ عَلى فَرَسٍ (رواه أحمد و النسائ أب هريرة)

Bagi si peminta-minta ada hak, walaupun datang dengan kuda. (H.R Ahmad dan Nasa’i)[58]

العجلة من الشيطان (رواه الترمذى و حسنه)

d.      Hadist masyur di kalangan fuqaha’

 

ابن عُمَر عن النبي صلى الله عليه و سلم قال أبغَضُ الحلالِ إلى الله لى الطلاقُ (رواه ابو داود)

e.       Hadist masyur di kalangan ahli bahasa arab

 

عن عمر قال : نعم العبد صهيب لو لم يخف الله لم يعصه

f.        Hadist masyur di kalangan  ahli pendidikan

 

ادبني ربي فاحسن تأديبى

g.    Hadist masyur di kalangan ahli sufi

كُنتُ كنزا مَخفِيا فأحْببْتُ ان أَعرَفَ فَخلقتُ الخلق فَبِي عَرفوْنى

“Aku pada mulanya adalah harta yang tersembunyi, kemudian aku ingin di kenal, maka kuciptakan mahkluk dan melalui aku merekapun kenal pada ku”.

Kitab-kitab yang berisi tentang kumpulan hadist masyur, antara lain Al-Maqasid Al-Hasanah fi ma Isytahara ‘ala Al-Alsinah karya As-Shakawi, Kasyf Al-Khafa’ wa Muzil Al-Ilbas fi Ma Isytahara min Al-Hadist ‘ala Alsinah An-Nas min Al-Hadist karya Ibnu Daiba’ As-Syaibani.

b.      Hadist Ghair Masyur

Hadist Ghair Masyur ini oleh ulama ahli hadist di golongkan menjadi ‘aziz dan gharib.

a)      Hadist ‘Aziz

Aziz menurut bahasa adalah Asy-Safied (yang mulia), An-Nadir (yang sedikit wujudnya), Ash-Shab’bulLadzi yakadu la yuqwa ‘alaih (yang sukar di peroleh), dan Al-Qowiya (yang kuat).[59]

Adapun menurut istilah, hadist aziz adalah:

مارواه إثنان و لو كان في طبقةٍ واحدةٍ , ثم رواه بعد ذلك جماعةً.

“hadist yang diriwayatkan oleh dua orang, walaupun dua orang rawi tersebut terdapat pada satu thabaqoh saja, kemudian orang-orang meriwayatkannya”.

 

Berikut Hadist ‘Aziz pada Thabaqah pertama:

نحنُ تلأحرون السَّابقون يوم القيامةِ . (رواه أحمد و النسائ)

“Kami adalah orang-orang terakhir di dunia yang terdahulu pada gari kiamat”. (H.R Ahmad dan An-Nasa’i)

 

Hadist tersebut diriwayatkan oleh dua orang sahabat (thabaqah) pertama, yakni Hudzaifah ibn Al-Yaman dan Abu Hurairah. Hadist tersebut pada thabaqah kedua sudah menjadi Masyur sebab periwayatnya Abu Hurairah, hadist diriwayatkan oleh tujuh orang, yaitu Abu Salamah, Abu Hazim, Thawuz, Al-‘Araj, Abu Shahih, Human, dan ‘Abd Ar-Rahman.

Contoh hadist ‘Aziz pada Thabaqad kedua, yaitu:

 

لا يئمنُ أحدُ حتَّى أكون أحبَّ إليه مِن نفسهِ مِن وَلِدهِ والناسِ أجمعينَ (متفق عليه)

”Tidak sempurna iman seseorang darimu sehingga Aku lebih dicintainya daripada dirinya sendiri, orang tuannya, anak-anaknya, dan manusia seluruhnya”. (Mutafaq’alaih)[60]

 

Hadist tersebut diterima oleh Anas bin Malik [61](thabaqah pertama), kemudian diterima oleh Qatadah dan’Abd. Al-‘Aziz (Thabaqah kedua). Dari Qotadah diterima oleh Husein Al-Mu’allim dan Syu’bah, sedangkan dari ‘Abd. Al-‘Aziz diriwayatkan oleh ‘Abd Al-Warist dan Ismail ibn Ulaiyah (Thabaqad ketiga). Pada Thabaqah keempat, Hadist itu diterima masing-masing oleh Yahya ibn Ja’far dan Yahya ibn Sa’id dari Syu’bah, Zuhair ibn Harb dari Ismail, dan Syaiban Ibn Abi Syaibah dari ‘Abd Al-Warits.

 

b)     Hadist Gharib

Gharib menurut bahasa adalah

1)      Ba’idun ‘anil wathani (yang jauh dari tanah),

2)      Kalimat yang sukar di pahami.

Adapun menurut istilah hadist Gharib adalah hadist yang diriwayatkan oleh seorang rawi.

Dalam pengertian lain, hadist gharib adalah hadist yang dalam sanadnya terdapat seorang yang menyendiri dalam meriwayatkan, di mana saja penyendiriannya itu terjadi.[62]

Penyendirian rawi dalam meriwayatkan hadist itu dapat mengenai orangnya, yakni tidak ada orang lain yang meriwayatkan selain rawi itu sendiri. Juga dapat mengenai sifat atau keaadaan rawi. Artinya sifat atau keaadaan rawi itu berbeda dengan sifat dan keaadaan rawi-rawi lain yang juga meriwayatkan hadist tersebut.

Contoh hadist gharib:

عن أبي هريرةَ رضي الله عنه عن النَّبي صلى الله عليه و سلم فال : الإيمانُ بِضْعٌ و ستُّوْن شُعبَةً و الحياءُ شُعبَةً مِن الإيمانِ (رواه البخارى)

Dari Abu Hurairah r,a. Dari Nabi SAW. Telah bersabda, “Iman itu bercabang-cabang menjado 60 cabang dan malu itu salah satu cabang dari iman”. (H.R. Bukhori)

Penyendirian perawi dalam hadist gharib dapat terjadi pada Tabi’in saja, Tabi’al tabi’in [63]atau seluruh perawi pada tiap-tiap thabaqad.

Contoh hadist gharib mutlak antara lain:

الولاءُ لحمَةٌ ملَحْمَةِ النَّسَبِ لا يُبَاعُ و لا يُوهَبُ

“kekerabatan dengan jalan memerdekakan, sama dengan kekerabatan dengan nasab, tidak boleh dijual dan tidak boleh di hibahkan”.

Hadist ini diterima dari Nabi oleh Ibnu Umar dan dari Ibn Umar hanya Abdullah ibn Dinar saja yang meriwayatkannya. Abdullah ibn Dinar adalah seorang tabi’in yang dapat dipercaya.

Sedangkan hadist gharib yang tergolong pada gharib nisbi adalah apabila penyendirian itu menegnal sifat atau keaadaan tertentu dari seorang rawi. Penyendirian seorang rawi seperti ini, bisa terjadi berkaitan dengan keadilan dan kedhabitan perawi atau mengenai tempat tinggal atau kota tertentu.

Contoh hadist gharib nisbi berkenaan dengan ketsiqqahan perawi antara lain adalah:

كان يَقْراُ به رسولى الله صلى عليه و سلمَ في الأضْحى و الفطْر بِق و القرآنِ المجيدِ و اقترَبَتِ السَّاعَةُ وانشَقَّ القمرُ (رواه مسلم)

Konon Rasulullah pada hari raya qurban dan hari raya fitrah membaca Surat Qaf dan surat al-Qomar”. (H.R. Muslim)

Hadist tersebut diriwayatkan melalui dua jaur, yakni jalur Muslim terdapat rentetan sanad: Muslim, Malik, Dumrah bin Sa’id, ‘Ubaidillah, dan Abu Laqid Al—Laisi yang menerima langsung dari Rasulullah. Sementara itu melaui jalur Al-Laqid Al-Lahi’ah , Khalid bin Yazid, ‘Urwah, ‘Aisyah yang langsung menerima dari nabi.

Pada rentetan sanad yang pertama, Dumrah bin Sa’id Al-Muzani disifati sebagai seorang muslim yang tsiqqah. Tidak seorang pun dari rawi-rawi tsiqqah yang meriwayatkannya selain diri sendiri. Ia sendiri yang meriwayatkan hadist tersebut dari Ubaidillah dari Abu Waqid Al-Laisi. Ia disifatkan menyendiri tentang ketsiqqah-annya. Sementara melaui jalur kedua, ibn Lahi’ah yang meriwayatkan hadist tersebut dari Khalid bin Yazid dari Urwah dari Urwah dari ‘Aisyah. Ibn Lahi’ah disifati sebagai seorang rawi yang lemah.[64]

Contoh hadist gharib nisbi yang berkenaan dengan kota atau tempat tinggal tertentu, antara lain adalah:

اُمرنا أنا أن نقْرَأَ بِفاتحةِ الكتابِ و ما تَيَسرَ (رواه ابو داود)

“Kami diperintahkan (oleh Rasul SAW) agar membaca Al-Fatihah dan surat yang mudah (dari al-Qur’an)”. (H.R. Abu Daud)[65]

Hadist ini diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sand Abu Al-Walid Al-Tayalisi, Hammam, Qatadah, Abu Nadrah, dan Sa’id semua rawi ini berasal dari Basrah dan tidak ada yang meriwayatkan dari kota-kota lain.

Selain pembagian hadist gharib seperti seperti tersebut di atas, para ulama juga, membagi dua golongan, yakni gharib pada sanadnya dan matan, gharib pada sanad saja. Pembvagian hadist gharib menjadi dua bagian ini bila ditinjau dari segi letak kegharibannya.

Yang dimaksud dengan gharib pada sanad dan matan adalah hadist yang hanya diriwayatkan melaui satu jalur, seperti sabda Rasulullah SAW.

كلمتان خفيفتان على السانِ ثقِيْلَتَانِ في المِيزانِ حبيبتانِ إلى الرحمنِ سبحان الله العظيمِ سبحان الله و بِحمدِهِ (رواه البخارى و مسلم)

Ada dua kalimat yang disenangi oleh Allah, ringan diucapkan dan memperberat timbangan, yaitu kaimat “subhana allah wa bi hamdih subhana allah il’adzim”.

Hadist ini diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim [66]dengan sanad Muhammad bin Fudhail, Abu Zur’ah ‘Umarah, Abu Zur’ah dan Abu Hurairah. Imam Tirmidzi menyatakan bahwa hadist ini nadalah gharib, karena hanya rawi-rawi terbutlah yang meriwayatkannya, tidak ada rawi lainnya.

 

 

 

 


 

BAB III

PENUTUP

 

KESIMPULAN

1.      hadist mutawatir adalah hadist yang diriwaytkan oleh periwayat yang banyak pada setiap tingkatan atau setiap generasi sanadnya yang menurut adat kebiasaan tidak mungkin mereka sepakat berdusta untuk membuat hadist yang besangkutan. Dan hadist mutawatir di bagi menjadi tiga, yaitu hadist mutwatir lafdzi, hadist mutawatir ma’nawi, dan hadist mutwatir amali.

2.      hadist ahad secara singkat, yakni hadist yang tidak memenuhi syarat-syarat hadist muatawatir. Hadist selain hadist mutawatir, atau hadist yang sanadnya sah dan bersambung hingga sampai kepada sumber nya (nabi) tetapi kandungannya memberikan pengertian zhanni dan tidak tidak smapai kepada qath’i dan yakin.

3.      hadist masyur adala hadist yang diriwayatkan oleh tiga orang atau lebih dari setiap generasi, akan tetapi tidak mencapai jumlah mutawatir. Jika diteliti lebih lanjut, sebenarnya haist masyur ini tidak semuanya berkualitas shaih, karena jumlah perawi yang demikian belum tentu menjamin keshahihannya kecuali disertai sifat-sifat yang menjadikan sanad ataupun matannya shaih. Dengan demikian haist masyur dapat dikelompokkan kepada yang berkualitas shahih, hasan dan dhaif.


 

DAFTAR PUSTAKA

 

1.      REFERENSI BUKU

Abdurrahman, Muhammad dan Sumarna, Erlan. Metode Kritik Hadis. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011.

 

Masrus, Ali. TEORI COMMON LINKG.H.A JUYNBOLL Melacak Akar Kesejarahan Hadist Nabi. Yogyakarta: PT LKS Yogyakarta, 2007.

 

Alawi, Muhammad. Ilmu Ushul Hadist. Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2006.

 

Suparta, Mundzir. Ilmu Hadis. Depok: PT RAJAGRAFINDO PERSADA, 2011.

 

Zuhri, Ahmad. ULUMUL HADIS. Medan: CV. Manhaji, 2014.

 

Majid Khon, Abdul. Ulumul Hadis. Jakarta: AMZAH, 2012.

 

Sumbulah, Umi. Kajian Kritis Ilmu Hadis. Malang: UIN-MALIKI PRESS Anggota IKAPI, 2010.

 

Solahudin, M Agus dan Suyadi, Agus. Ulumul Hadist. Bandung: CV PUSTAKA SETIA, 2015.

 

Khafid ibn hajar Al-asqolani, Bulughul Marom Surabaya: Darul ilmu.


[1] Abdul Majid Khon, Ulumul Hadist (Jakarta: AMZAH, 2012), 2.

[2] Muhammad Alawi AL-Maliki, Ilmu Ushul Hadist (Yogyakarta: PUSTAKAPELAJAR, 2006), 95.

[3] M. Abdurrahman dan  Erlan Sumarna, Metode Kritik Hadis (Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA, 2011), 199.

[4] Isim Fa’il Musytaq adalah Isim pelaku yang melakukan pekerjaan.

[5] Umi Sumbulah, Kajian Kritis Ilmu Hadis (Malang: UIN-MALIKI PRESS (Anggota IKAPI, 2010), 88.

[6] Sharih ad-dalalah adalah suatu lafadz yang pengungkapannya secara jelas dan tegas sehingga untuk memahaminya tanpa harus mencari makna yang tersirat.

[7] Ali Mansur, TEORI COMMON LINKG.H.A JUYNBOOL Melacak Akar Kesejarahan Hadist Nabi (Yogyakarta: LKS Yogyakarta, 2007), 116.

[8] Thabaqad adalah keadaan yang berupa persamaan para perawi dalam sebuah urusan.

[9] Mundzir Suparta, ILMU HADIS (Jakarta: PT RAJAGRAFINDO PERSADA, 2011), 96.

[10] Imam Nawawi adalah seorang pemikir muslim di bidang fiqih dan hadist yang bermazhab syafi’i.

[11] Muhammad ‘ajaj Al-Khattib pemikir islam ternama dalam bidang hadist dari Damaskus.

[12] Ahmad zuhri dkk, ULUMUL HADIS (Medan: CV. Manhaji 2014), 78.

[13] Khabar Mutawatir berfaedah memberikan ilmu yang pasti yakni keyakinan yang sampai membuat manusia membenarkannya dengan pembenaran yang tetap

[14]Menurut Ath-thibi, kata Isnad dan Ilmu Al-isnad mempunyai arti yang sama atau berdekatan. Ibn jama’ah dalam hal ini lebih tegas lagi. Menurutnya, ulama muhaditsin memandang kedua istilah tersebut mempunyai pengertian yang sama, yang keduanya dapat di pakai secara bergantian.

[15] Ulama muthakirin adalah para ulama hadist yang hidup pada abad ke-4 Hijriah diantara tokoh-tokohnya adalah Imam Al-Hakim, Imam Al-Dar al-Quthni, Imam Ibn Hibban, Imam al-Thabrani.

[16] Ilmu Dharuri adalah pengetahuan yang dapat diperoleh secara langsung tanpa memerlukan penelitian dan dalil.

[17] Tabi’in besar yang dikenal dengan FUKAHA TUJUH, yaitu: Said ibn Musayyab, Al-qosim ibn Muhammad Abu BAKar, Urwah bin zubair, Kharijjah, Abu ayyub, Ubaiddilah ibn utbah, Abu salamah.

[18] Saifuddin Zuhri, “PREDIKAT HADIST DARI SEGI JUMLAH PERIWAYAT DAN SIKAP PARA ULAMA TERHADAP HADIS AHAD” , DIALOG: Suhuf, vol. 20, No. 1, Mei 2008: 53-65.

[19] Secara terminologis Istibath adalah daya usaha yang harus diupayakan untuk merumuskan hukum syara’ berdasarkan al-qur’an dan sunnah dengan jalan ijtihad.

[20] Kitab al-ahzar al- mutanatsir al-akhbar al-mutanawirah memuat 113 hadist mutanawir dan terdapat 10 kitab yang disebutkan yaitu ilmu, Thaharah, solat, zakat, puasa, Haji, Adab, Manaqib, dan hari akhirat.

[21] Mundzir Suparta, ILMU HADIS (Jakarta: PT RAJAGRAFINDO PERSADA, 2011), 98.

[22] Ahmad zuhri dkk, ULUMUL HADIS (Medan: CV. Manhaji 2014), 82.

[23] Redaksi dalam KBBI atau kamus besar indonesia memiliki arti cara atau gaya penyusunan kata dalam sebua kalimat, seperti sebuah ide yang sama dapat memberi kesan yang berbeda tergantung redaksinya atau penyampaian ide.

[24] Urutan rawi di atas adalah Ali Bin Rabi’ah Anas Bin Malik Abu Hurairah Abdullah Bin zubair, Said bin Ubaid Abdul Aziz Abu Shalih Amit bin Abdullah Ubair, Abdullah Bin Nashir Ismail Abu Husain Abdul Haris Jami’ Bin Sadam, Muhammad bin Abdullah Zuhair bin Harb Abu Awanah Abu Muamar Syubah, Muhammad bin Ubaid Musa Abdul Wahid

[25] Yang dimaksud dengan sepuluh sahabat adalah: AbuBakar As shiddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Afan, Sa’id bin Malik, Sa’id binaid, dan Ubaidah ibn Jarrah.

[26] Menurut al-Bazzar hadist tersebut diriwayatkan 40 orang sahabat dan sebagian ulama’ mengatakan bahwa Hadist tersebut diriwayatkan oleh 62 orang sahabat dengan susunan redaksi dan makna yang sama.

[27] Mundzir Suparta, ILMU HADIS (Jakarta: PT RAJAGRAFINDO PERSADA, 2011), 102.

[28] Umi Sumbulah, Kajian Kritis Ilmu Hadis (Malang: UIN-MALIKI PRESS (Anggota IKAPI, 2010), 90.

[29] Imam Suyuthi dalam kitabnya yang berjudul Khusn ak-Muhadlarah menyebutkan bahwa ia mendapatkan ijazah dari setiap setiap guru yang yang didatanginya, yaitu mencapai 150 ijazah dari 150 guru. Di antara gutu-gurunya tersebut, beliau berguru pada AL-Bulqini sampai wafatnya, juga belajar hadist pada Syaikhul islam Taqiyyudin Al-Manaawi.

[30] Konon Nabi SAW tidak mengangkat kedua tangan beliau dalam doa-doa beliau, selain dalam doa istisqo’.

[31] Abu Musa al-AS-asy’ari yang bernama asli Abdullah bin QAIS bin Sulaiman al-Asy’ari, adalah seorang sahbat nabi Muhammad yang masuk islam di Mekkah sebelum terjadinya Hijrah.

[32] Hadist ini tidak kurang dari 30 hadist dengan redaksi yang berbeda-beda.

[33] Secara Kuantitatif penelitian yang sistematis dan fenomena serta hubungan-hubungannya.

[34] Ta’rif Ijma’ adalah penjelasan tentang penuturan sesuatu, yang dengan mengetahuinya akan melahirkan suatu pengetahuan yang disepakati para ulama’.

[35]Suatu hadist  Qathi Al-wurud  dalil yang meyakinkan bahwa datangnya dari allah (al-qur’an) atau Rasullulah (hadist Mutawatir). Al-qur’an seluruhnya qath’i dilihat dari segi wurudnya, akan tetapi tidak semua hadist qath’i wurudnya.

[36] Khafid ibn hajar Al-asqolani, Bulughul Marom (Surabaya: Darul ilmu), 31.

[37] Plural mempunyai makna beragam.

[38] Umi Sumbulah, Kajian Kritis Ilmu Hadis (Malang: UIN-MALIKI PRESS (Anggota IKAPI, 2010), 91.

[39] Mundzir Suparta, ILMU HADIS (Jakarta: PT RAJAGRAFINDO PERSADA, 2011), 107.

[40] Sanad adalah silsilah merantai orang-orang yang menghubungkan kepada matan Hadist.

[41] Zhanni adalah dalil-dalil yang belum pasti penunjukannya terhadap satu masalah. Artinya ketika ada satu masalah yang memerlukan ketetapan hukum syariat, sedangkan dalil yang ada baik Al-Qur’an maupun sunnah tidak menunjukkan kepastiannya, ataupun tidak ada dalil-dalil sama sekai, maka muncullah perbedaan pendapat mengenai status hukum itu. Dan perbedaan ini sudah dimulai semenja generasi sahabat dimana setelah wafatnya Nabi Saw dan Al-Qur’an pun sudah sempurna diturunkan. Sedangkan permasalahan terus bermunculan. Salah satu cara mengatasinya adalah dengan cara ijtihad.

[42] Muhammad Abu Zahrah pernah menjabat sebagai anggota Akademi Penelitian Islam al-Azhar, Kairo, Mesir.

[43] Jumhur ulama’ adalah pendapat mayoritas ulama yang terdiri dari para pakar hukum islam yang bisa di pertanggungjawabkan ke mujtahidannya dan merupakan ulama yang jujur dan tidak pernah berdusta.

[44] Adapun syarat-syarat penerimaan hadist menjadi hadist yang maqbul berkaitan dengan sanadnya yang tersambung, diriwayatkan oleh rawi yang adil dan dhabit, dan dari segi matan yang tidak syadz dan tidak terdapat illat. Hadist maqbul adalah hadist yang dapat diterima sebagai hujjah. Jumhur ulama’ sepakat bahwa hadist shahih dan hasan sebagai hujjah.

[45] Abu Hanifah merupakan seorang Tabi’in, generasi setelah sahabat nabi, karena dia pernah bertemu dengan salah seorang sahabat nabi Saw bernama Anas bin Malik dan beberapa peserta Perang Badar yang dimuliakan Allah SWT yang merupakan generasi terbaik islam, dan meriwayatkan hadist darinya serta sahabat Nabi SAW lainnya. Imam Hanafi disebutkan sebagai tokoh yang pertama kali menyusun kitab fiqih berdasarkan kelompok-kelompok yang berawal dari kesucian (thaharah), shalat, dan seterusnya, yang kemudian diikuti oleh ulama’-ulama’ sesudahnya seperti Malik bin Anas, Imam Syafi’i, Abu Dawud, Imam Bukhori.

[46] Tsiqah adalah orang yang baik agamanya, adil yang ditafsiri sebagai orang muslim, baligh, berakal dan terhindar dari sebab-sebab kefasikan dan kerusakan moral.

[47] Amal ahli madinah adalah perkataan atau perbuatan yang disepakati oleh para penduduk Madinah dalam lingkungan awal kurun ketiga hijriah yang mempunyai kaitan dengan para sahabat pada zaman rasullulah saw, amal mahmul madinah disebut juga ijma’ ahlul madinah. Amal ahli madinah menurut Imam Malik bisa dijadikan hujjah sekalipun hanya dilakukan oleh mayoritas dan tidak mencapai tingkat ijma’. Karena Madinah adalah tempat hijrah Nabi Muhammad Saw, disitu pula ayat-ayat al-Qur’an diturunkan, sehingga mereka yang bermukim di Madinah menyaksikan turunnya wahyu dan mengikuti sunnah Rasullulah saw. Sehingga amalan penduduk Madinah menurut Imam Malik merupakan perihal cerminan dari sunnah Rasullulah Saw. Oeleh karena itu posisi amal penduduk Madinah ini Menurutnya lebih kuat dibanding dengan Hadist ahad. Sebagai contoh, menurut Imam Malik zakat hasil pertanian seperti sayur-sayuran dan buah-buahan selain yang dijelaskan oleh Nabi Muhammad saw. Adalah tidak wajib, jika sayur-sayuran atau buah-buahan tersebut dijual maka uang hasil penjualannya baru wajib dizakatkan apabila berada di tangan pemiliknya selama satu taun, karena begitulah praktek penduduk Madinah. Dalam hal ini menolak keumuman hadist Rasullulah saw yang diriwayatkan dari Salim ibn ‘abdullah dari ayahnya. Dalam kasus ini Imam Malik tidak sependapat dengan Abu Hanifah yang mengatakan bawa Hadist tersebut mencakup seluruh jenis tanaman. Menurut Imam Malik hadist di atas hanya berlaku pada jenis buah-buahan yang telah dijelaskan oleh Rasullulah Saw, seperti kurma, anggur dan gandum sebagai makanan pokok sebab seperti itulah yang didapati dalam praktek penduduk Madinah.

[48] Aliran qodariah berpendapat bahwa tiap-tiap orang adalah pencipta bagi segala perbuatannya, ia dapat berbuat sesuatu atau meninggalkannya atas kehendaknya sendiri.

[49] Kitab AL-Muwaththa merupakan karya monumental Imam Malik dalam bidang hadist. Imam malik mengumpulkan banyak sekali bahan dan memilih beberapa ribu haist yang dituangkan dalam kitabnya tersebut. Ia selalu merevisi karya ini dan akibatnya mengurangi jumlah isinya. Karena itu, kitab ini memiliki lebih dari 80 versi. Lima belas diantaranya lebih terkenal, dan kini hanya tinggal versi Yahya yang bisa diperoleh dalam bentuk orisinil, lengkap, dan tercetak. Versi ini berisi hadist Nabi, atsar sahabat, dan atsar ulama’ kemudian. Jumlah total hadist yang terdapat dalam kitab Al-Muwathha’ adalah 1726, yang terdiri dari600 hadist marfu’ , 613 hadist mauquf, 285 hadist maqtu, dan 28 hadist mursal.

[50] Muh Zuhri, Hadist Nabi (Yogyakarta: PT Tiara Wacana, 1997), 87.

[51] Agus Solahudin dan Agus Suyadi, Ulumul Hadis (Bandung:  CV PUSTAKA SETIA, 2015), 134.

[52] Mundzir Suparta, ILMU HADIS (Jakarta: PT RAJAGRAFINDO PERSADA, 2011), 110.

 

[53] Menurut ibnu Hajar AL-Asqolani, Buhkari menulis hadist sebanyak 9.082 hadist dala karya monumentalnya, AL-jami’ Ash-Shahih yang dikenal sebagai Shahih Bukhori.

[54] Untuk membedakan antara hadist shahih dan hadist hasan, harus menegtahui batasan dari kedua hadist tersebut. Batasannya adalah keadilan pada hadist hasan di sandang oleh orang yang tidak begitu kuat ingatannya.

[55] Hadist para Muhaditsin (ulama ahli hadist) berbeda pendapat di dalam mendefinisikan al-hadist. Hal itu karena terpengaruh oleh terbatas dan luasnya objek peninjauan mereka masing-masing.

[56] Agus Solahudin dan Agus Suyadi, Ulumul Hadis (Bandung:  CV PUSTAKA SETIA, 2015), 140.

[57] Imam At-thabrani mempunyai karta sebuah kitab yang berjudul Mu’jamul Kabir yang terdiri dari 12 jilid dan merupakan kitab yang berbentuk ensiklopedis, tidak hanya memuat hadist Nabi, melainkan juga memuat beberapa informasi sejarah dan secara keseluruhan memuat 60.000 hadist, karenanya, Ibnu Dihiyah mengatakan bahwa kitab ini merupakan karya ensiklopedis hadist terbesar di dunia. Ibnu abbas merupakan sahabat Nabi yang berpengetahuan luas, dan banyak hadist sahih yang diriwayatkan melalui Ibnu Abbas, serta dia juga menurunkan seluruh Khalifah dari Bani Abbasiyah.

[58] Imam ahmad bin Hanbal tela menyusun sebuah musnad, yang di dalamnya terdpat hadist-hadist yang tidak ditemukan oleh orang lain. Musnad Ahmad bin Hanbal ini terdiri dari 6 jilid yang memuad tidak kurang dari 30.000-40.000 hadist yang telah ia seleksi dari 75.000 hadist. Imam An-Nasa’i menerima hadist dari sa’ad, ishaq bin rawahih, dan ulama-ulama lainnya dari kalangan tokoh ulama’ Khurasan, Hijaz, Irak, Mesir, Syam, dan jazirah Arab. Imam An-Nasaa’i termasuk di antara ulama yang ahli di bidang hadist dan karena ketinggian sanad hadistnya.

[59] Agus Solahudin dan Agus Suyadi, Ulumul Hadis (Bandung:  CV PUSTAKA SETIA, 2015), 136.

 

[60] Mutafaq’alaih adalah hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

[61] Anas bin Malik berasal dari Bani an-Najjar dan merupakan anak dari Ummu Sulaim. Sejak kecil dia melayani keperluan Nabi Muhammmad Saw, sehingga selalu bersama Rasulullah. Dengan selalu bersama Rasulullah, dia menghafal banyak hadist.

[62] Hadist gharib dibai menjadi dua yaitu hadist muthlaq yang berpangkal pada tempat ashlus sanad, yakni tabiin bukan sahabat dan gharib nisby adalah apabila penyendirian itu menegnai sifat-sifat atau keadaan tertentu seorang rawi. Dan cara menetapkan ke-gharib-an hadist dapat diketahui dengan memeriksa pada kitab-kitab hadist , seperti jami’ dan kitab Musnad, apakah hadist tersebut mempunyai sanad lain yang menjadi mutobi’ (hadist yang mengikuti periwayatan rawi) dan atau matan lain yang menjadi syahid (meriwayatkan sebuah hadist lain dengan sesuai maknanya). Cara tersebut di namakan i’tibar.

[63] Tabi’ut Tabi’in adalah generasi setelah Tabi’in, artinya pengikut Tabi’in, adalah orang islam teman sepergaulan dengan para Tab’in dan tidak mengalami masa hidup sahabat Nabi. Tabi’ut Tabi’in adalah di antara tiga kurun generasi terbaik dalam sejarah islam, setelah Tabi’in dan sahabat. Thabi’ut Tabi’in di sebut juga murid Tabi’in.

[64] Mundzir Suparta, ILMU HADIS (Jakarta: PT RAJAGRAFINDO PERSADA, 2011), 118.

 

[65] Abu dawud adalah seorang perawi hadist yang mengumpulkan sekitar 50.000 hadist lalu memilih dan menuliskan 4.800, di antaranya dalam kitab Sunan Abu DAwud.

[66] Adapun nama Al-Bukhori dan Muslim, yang di tulis pada akhir matan disebut rawi (orang yang meriwayatkan hadist). Karena keduanya (masing-masing) membukukan hadist, mereka disebut mudawwin (yang mebukukan hadist)


Posting Komentar

0 Komentar