Makalah Organisasi Kurikulum



BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Organisasi merupakan asas yang sangat penting bagi proses pengembangan kurikulum dan berhubungan erat dengan tujuan pembelajaran, karena hal itu untuk menentukan isi bahan pembelajaran, menentukan cara penyampaian bahan pembelajaran, menentukan bentuk pengalaman yang akan disiapkan untuk peserta didik dan menentukan peran pendidik dalam hubungan atau implementasi kurikulum.

Organisasi kurikulum, yaitu pola atau bentuk bahan pelajaran disusun dan disampaikan kepada murid-murid, merupakan suatu dasar yang penting sekali dalam pembinaan kurikulum dan bertalian erat dengan tujuan progam pendidikan yang hendak dicapai, karena bentuk kurikulum turut menentukan bahan pelajaran, urutannya dan cara menyajikannya kepada murid-murid. Tujuan-tujuan yang dicapai dengan kurikulum berdasarkan mata pelajaran yang terpisah-pisah. Demikian pula berlainan cara menyampaikannya dan isi pelajarannya. Tujuan-tujuan pendidikan yang mengenai seluruh pribadi anak dihalang-halangi oleh kurikulum yang disusun untuk memupuk sehi intelektual.[1]

Salah satu aspek yang perlu dipahami dalam pengembangan kurikulum adalah aspek yang berkaitan dengan organisasi kurikulum. Organisasi kurikulum berkaitan dengan pengaturan bahan pelajaran, yang selanjutnya memiliki dampak terhadap masalah administrative pelaksanaan proses pemeblajaran, team teaching misalnya.

Selain itu organisasi kurikulum sangat terkait dengan pengaturan bahan pelajaran yang ada dalam kurikulum, sedangkan yang menjadi sumber bahan pelajaran dalam kurikulum adalah nilai budaya, nilai sosial, aspek siswa dan masyarakat serta ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemudian yang tidak kalah penting organisasi kurikulum menentukan peranan guru dan siswa dalam pembinaan kurikulum. Dengan demikian apabila masing-masing guru dan siswa dapat melaksanakan kurikulum secara efektif dan efisien maka tujuan pendidikan akan tercapai secara maksimal.[2]

 

B.     Rumusan Masalah

1.      Bagaimana organisasi kurikulum dalam pengembangan kurikulum?

2.      Bagaimana prosedur pengorganisasian kurikulum dalam pengembangan kurikulum?

3.      Bagaimana jenis-jenis organisasi kurikulum dalam pengembangan kurikulum?

4.      Bagaimana hubungan antar bentuk kurikulum dalam pengembangan kurikulum?

 

C.    Tujuan Pembahasan

1.      Untuk memaparkan organisasi kurikulum.

2.      Untuk memaparkan prosedur pengorganisasian kurikulum.

3.      Untuk memaparkan jenis-jenis organisasi kurikulum.

4.      Untuk memaparkan hubungan antar bentuk kurikulum.

 


 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.    Organisasi Kurikulum

Organisasi kurikulum adalah struktur progam yang berupa kerangka progam-progam pengajaran yang akan disampaikan kepada siswa. Menurut  Nasution yang dikutip oleh Rahnang memberikan pengertian bahwa organisasi kurikulum adalah pola atau bentuk bahan pelajaran yang disusun yang bertalian erat dengan tujuan progam pendidikan yang hendak dicapai.[3]

Secara umum beberapa pendapat di atas menyatakan bahwa organisasi kurikulum bertujuan untuk mempermudahkan siswa dalam belajar, karena dalam organisasi kurikulum mencoba untuk mewujudkan apa yang diketahui tentang teori, konsep, pandangan tentang pendidikan, perkembangan siswa dan kebutuhan masyarakat.

Penyusunan kurikulum harus memperhatikan tingkat pendidikan dan jenis pendidikan yang terdapat pada kurikulum. Tingkat pendidikan dibedakan menjadi pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Setiap jenis dan jenjang pendidikan tersebut mempunyai tujuan berbeda satu sama lain akan tetapi harus mencerminkan adanya kesinambungan dari ketiganya.[4] Berdasarkan dengan jenis sekolah secara umum berorientasi pada pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Pertama (SMA) ada pula yang berorientasi pada sekolah kejuruan.

Komoponen-komponen struktur kurikulum diperlukan untuk menuangkan keputusan-keputusan yang diambil sebagai pegangan bagi pendidik dalam kegiatan-kegiatan sekolah. Komponen struktur kurikulum terdiri dari:

 

1.    Tujuan

       Kurikulum adalah alat untuk mencapai tujuan pendidikan, maka tujuan kurikulum harus dijabarkan dari tujuan umum pendidikan dalam sistem pendidikan nasional. Makna tujuan umum penididkan pada hakikatnya membentuk manusia Indonesia yang bisa mandiri dalam konteks kehidupan pribadinya, kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara serta berkehidupan sebagai makhluk Tuhan.[5]

2.    Materi

            Mata pelajaran sebagai bagian dari kebudayaan manusia merupakan pengetahuan bagi manusia untuk memperoleh kehidupan. Bagian terpenting dalam struktur kurikulum adalah memilih mata pelajaran agar memperoleh isi kurikulum yang sesuai kemampuan anak, tuntutan masyarakat dan kepentingan mata pelajaran. Tidak semua mata pelajaran dan kebudayaan manusia harus dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah sekalipun penting bagi kehidupan. Ada beberapa kriteria yang bisa digunakan dalam memilih mata pelajaran sebagai isi kurikulum diantaranya adalah pentingnya mata pelajaran dalam kerangka pengetahuan keilmuan, mata pelajaran harus tahan uji dan mata pelajaran memiliki kegunaan bagi anak didik dan masyarakat pada umumnya.

3.    Proses

   Proses belajar mengajar yaitu rangkaian interaksi antara pendidik dan peserta didik memiliki hubungan timbal balik untuk mencapai tujuan tertentu. Proses belajar mengajar meliputi kegiatan yang dilakukan pendidikan mulai dari perancanaan, pelaksanaan kegiatan sampai evaluasi dan progam tindak lanjur untuk mencapai tujuan pendidikan. Dalam proses belajar mengajar diperlukan kemampuan pendidik atau guru untuk mengelola pembelajaran. Meneglola proses belajar mengajar adalah kecakapan para guru dalam menciptakan suasana edukatif antara pendidik dan peserta didik yang mencakup segi kognitif, efektif dan psikomotor.

4.    Evaluasi

   Evaluasi dapat menentukan tercapai tindaknya tujuan pendidikan dan pengajaran perlu dilakukan usaha dan tindakan atau kegiatan untuk menilai hasil belajar yang bertujuan untuk melihat kemajuan belajar peserta didik dalam hal penguasaan materi pengajaran yang telah dipelajari tujuan yang ditetapkan.

  Pencapaian misi lembaga pendidikan sangat didukung oleh pola dan model kurikulum yang diterapkan oleh satuan lembaga tersebut. Maka dari itu, penetapan dan penggunaan kurikulum perlu dianalisis serta ditinjau dari berbagai aspek sehingga kurikulum tersebut tidak bertolak belakang dengan karakter lembaga pendidikan.[6]

 

       Organisasi kurikulum, pola atau bentuk bahan pelajaran disusun dan disampaikan kepada murid-murid, merupakan suatu dasar yang penting sekali dalam pembinaan kurikulum dan berhubungan erat dengan tujuan progam pendidikan yang hendak dicapai, karena bentuk kurikulum turut menentukan bahan pelajaran, urutannya dan cara penyampaiannya kepada murid-murid.

       Tujuan-tujuan yang dicapai dengan proyek atau unit berlainan dengan apa yang dicapai dengan kurikulum berdasarkan mata pelajaran yang berpisah-pisah. Demikian pula berlainan cara penyampaiannya dan isi pelajarannya. Tujuan-tujuan pendidikan mengenai seluruh pribadi anak dihalang-halangi oleh kurikulum yang disusun untuk memupuk segi intelektual. Tentu saja subject-curriculum dapat juga membentuk segi-segi lain dari pribadi anak, akan tetapi organisasi kurikulum tertentu sangat mempengaruhi bentuk-bentuk pengalaman apakah yang disajikan kepada anak-anak berdasarkan proyek atau unit dengan sendirinya misalnya menyuruh anak-anak menyelidiki sendiri, mengadakan karya wisata, mengadakan wawancara (interview), menggunakan berbagai sumber, dan sebagainnya dan tidak terikat pada satu buku pelajaran tertentu. Selain dari itu organisasi kurikulum menentukan juga peranan guru dalam pembinaan kurikulum.

       Organisasi kurikulum merupakan asas yang sangat penting bagi proses pengembangan kurikulum dan berhubungan erat dengan tujuan pembelajaran, sebab menentukan isi bahan pembalajaran, menentukan cara penyampaian bahan pembelajaran, menentukan bentuk pengalaman yang akan di sajikan kepada terdidik dan menentukan peranan pendidik dan terdidik dalam inplementasi kurikulum.[7] Isi kurikulum berkenaan dengan pengetahuan ilmiah dan pengalaman belajar yang harus diberikan kepada siswa untuk dapat mencapai tujuan pendidikan. Dalam menentukan isi kurikulum baik yang berkenaan dengan pengetahuan ilmiah maupun pengalaman belajar disesuaikan dengan tingkat dan jenajang pendidikan, perkemabangan yang terjadi dalam masyarakat menyangkut tuntutan dan kebutuhan masyarakat, perkembangan ilmu penegtahuan dan teknologi.[8]

     Adapun unsur-unsur yang terdapat dalam organisasi kurikulum, antara lain:

a.    Konsep

            Definisi secra singkat dari sekelompok fakta atau gejala. Konsep merupakan definisi dari apa yang perlu diamati, konsep menentukan antara variable-variable mana kita ingin menentukan adanya hubungan empiris,. Hampir setiap bentuk organisasi kurikulum dibangun berdasarkan konsep, seperti peserta didik, masyarakat, kuantitas, ruangan dan evaluasi.

b.    Generalisasi

       Generalisasi adalah kesimpulan-kesimpulan yang merupakan kristalisasi dari suatu analisis. Kita harus membedakan antara kesimpulan-kesimpulan dengan rangkuman. Namyak orang yang keliru dalam manarik kesimpulan karena apa yang dilakukannya adalah objek berperilaku secara manusiawi.

c.    Keterampilan

       Keterampilan adalah kemampuan dalam merencanakan organisasi kurikulum dan diguankan sebagai dasar untuk menyusun progam yang berkesinambungan. Misalnya, organisasi pengalaman belajar berhubungan dengan keterampilan komprehensif, keterampilan dasar untuk mengerjakan matematika, dan keterampilan menginterprestasikan data.

d.    Nilai-nilai

       Norma atau kepercayaan yang diagungkan, sesuatu yang bersifat absolut untuk mengendalikan perilaku. Misalnya, menghargai diri sendiri, menghargai kemulyaan dan kedudukan setiap orang tanpa memperhatikan ras, agama, kebangsaan, dan status sosial-ekonomi.[9]

       Mengorganisasikan unsur-unsur memilih tujuan-tujuan yang jelas dan objektif serta sesuai dengan minat peserta didik. Jika tujuan kurikulum berkaitan dengan maslah teknis dan kejuruan, maka keterampilan adalah unsur yang tepat untuk dipergunakan. Jika tujuan kurikulum berkaitan dengan domain moral dan etika sebagai fungsi yang integrative, maka nilai-nilai merupakan unsur organisasi yang tepat.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa oraganisasi kurikulum adalah pola dan susunan mata pelajaran yang harus ditempuh oleh siswa dalam kegiatan pembelajaran yang ditentukan oleh sekolah.

 

B.       Prosedur Pengorganisasian Kurikulum

 Ada beberapa faktor dalam organisasi kurikulum yang perlu diperhatikan, yakni ruang lingkup (scope), urutan, (sequence) dan penempatan bahan (grade placement).

1.    Ruang lingkup bahan, adalah keseluruhan materi pelajaran dan pengalaman yang akan diberikan dari pengalaman yang akan diberikan dari suatu bidang studi atau daru sesuatu pokok bahasan tertentu. Selain itu sesuatu pokok bahasan dan atau sub bahasan juga mengandung ruang lingkupnya tersendiri. Ruang lingkup bahan itu merupakan perincian dari pada pokok atau topik tersebut. Kejelasan tentang perincian bahan tersebut dapat kita peroleh dari dalam buku paket atau sumber pokok dari pelajaran yang telah ditentukan.

2.    Urutan bahan, adalah penyusanan bahan pelajaran menurut aturan tertentu secara berurutan, urutan bahannya disusun sedemikian rupa agar menunjukkan sistematika dan memudahkan penyampaian maupun penangkapan oleh para siswa.

3.    Penempatan bahan, adalah penempatan beberapa bahan pelajaran untuk kelas tertentu. Penempatan bahan pelajaran tersebut dihubungkan dengan ruang lingkup bahan dan diserasikan dengan urutan bahan pelajaran.[10]

 

Sedangkan menurut Teyler yang dikutip oleh Rahnang merumuskan kriteria organisasi kurikulum yang efektif menjadi tiga, di antaranya adalah:

1.    Berkesinambungan (continuity)

2.    Berurutan (sequence)

3.    Keterpaduan (integrated)[11]

Ketiga kriteria menurut Teyler merupakan petunjuk dalam membuat organisasi kurikulum. Hal ini tidak terikat pada suatu bentuk organisasi kurikulum apapun yang digunakan. Pada dasarnya semua organisasi kurikulum mempunyai bahan yang akan dijadikan isi.

Untuk memperoleh organisasi kurikulum yang efektif perlulah diperhatikan, bahwa kriteria tersebut dapat diterapkan dalam mengorganisasikan kegiatan mempelajari bahan-bahan tersebut. Oleh karena itu setiap pengembang kurikulum sepatutnya dapat melihat berbagai keunggulan maupun kelemahan yang dimiliki oleh masing-masing bentuk organisasi, agar dapat dicarikan bila suatu bentuk tertentu terpilih.

Menurut Hamalik yang dikutip oleh Zaini[12] dalam pengorganisasian kurikulum terdapat beberapa prosedur yang meliputi:

1.    Prosedur buku pelajaran

     Pemilihan isi kurikulum didasarkan atas materi yang terkandung di dalam buku pelajaran atau sejumlah buku pelajaran yang telah dipilih oleh sebuah panitia tertentu.

2.    Prosedur survei pendapat

     Pemilihan dan pengorganisasian isi jurikulum dilakukan dengan jalan mengadakan survei atau penelitian terhadap pendpat berbagai pihak.

3.    Prosedur studi kesalahan

     Prosedur ini dilaksanakan dengan jalan mengadakan analisis terhadap kesalahan, kekeliruan, kelemahan tau kebaikan atas hasil-hasil atau pengalaman kurikuler.

4.    Prosedur mempelajari kurikulum lainnya

     Prosedur ini dapat disamakan dengan metode tambal sulam dengan mempelajari metode sekolah lain, guru atau sekolah dapat menetapkan dan menentukan isi kurikulum untuk sekolahnya sesuai dengan tujuan.

5.    Analisis kegiatan orang dewasa

Melalui prosedur ini terlebih dahulu diadakan studi terhadap kegiatan-kegiatan dalam kehidupan untuk menemukan sejumlah kegiatan yang diperkirakan berguna untuk dipelajari oleh para siswa di sekolah. Kegiatan yang dianalisis adalah yang berkenaan dengan pekerjaan atau jabatan.

6.    Prosedur fungsi sosial

Prosedur ini bertalian dengan prosedur analisis kegiatan masyarakat. Masyarakat melakukan banyak fungsi sosial dalam kehidupannya yang bermacam ragam dan bentuknya, dan berada dalam daerah kehidupan tertentu, fungsi yang telah ditentukan diklasikfikasikan menjadi sejumlah area of living.

7.    Prosedur minat kebutuhan

Menurut prosedur ini, minat kebutuhan juga melibatkan persistent problem, tetapi scope dan squace-nya didasarkan atas siswa dan berkenaan dengan fungsi-fungsi personal dan sosial.

 

C.      Jenis-jenis Organisasi Kurikulum

Kurikulum memiliki bermacam-macam bentuk dan jenis organisasinya. Bentuk yang paling dikenal dan sangat meluas yang telah diakui para ahli, baik di Indonesia, di Mesir, di Amerika maupun seluruh dunia yaitu saparated subject curriculum yang berarti kurikulum terdiri atas sejumlah mata pelajaran yang secara umum diajarkan terpisah-pisah. Kurikulum ini mempunyai banyak kelebihan dan kelemahan. Sedangkan kurikulum yang didasarkan atas analisis masyarakat dan kebutuhannya serta analisis anak dengan minat serta kebutuhannya, maka kurikulum yang serasi adalah bercorak integrated curriculum.[13]

Berbagai bentuk kurikulum itu jarang terdapat dalam kenyataan dalam bentuknya yang murni. Namun berbagai bentuk kurikulum itu ada pengaruhnya terhadap pemikiran tentang kurikulum dan sering pula dalam pelaksanaannya. Kurikulum dala, implementasinya dapat dimodifikasi, diperkaya dan disesuaikan dengan pemikiran-pemikiran baru tentang kurikulum.

Agar dapat mengembangkan kurikulum secara baik, pengembangan kurikulum semestinya memahami berbagai jenis model pengembangan kurikulum. Model kurikulum merupakan suatu alternatif prosedur dalam rangka mendesain (designing), menerapkan(implemtation), dan mengevaluasi (evaluation) suatu kurikulum.[14] Model kurikulum harus dapat menggambarkan suatu proses sistem perencanaan pembelajaran yang memenuhi berbagai kebutuhan dan standar keberhasilan dalam pendidikan.

Pengembangan kurikulum dalam praktek sering cenderung hanya menekankan pada pemenuhan mata pelajaran. Artinya, isi materi yang harus dipelajari peserta didik hanya berpusat pada disiplin ilmu yang terstruktur, sistematis, dan logis, sehingga mengabaikan pengetahuan dan kemampuan aktual yang dibutuhkan sejalan perkembangan masyarakat.

Model pengembangan kurikulum atau model kurikulum yaitu langkah atau prosedur sistematis dalam proses penyusunan suatu kurikulum. Dengan memahami esensi model pengembangan kurikulum diharapkan akan bisa bekerja secara lebih sistematis, sistemik dan optimal. Sehingga harapan ideal terwujudnya suatu kurikulum yang akomodatif dengan berbagai kepentingan, teori dan praktek, bisa terwujudkan.

Penyusunan kurikulum, sangatlah tergantung pada asas organisasian, yaitu bentuk penyajian bahan pelajaran atau organisasi kurikulum. Berikut ini adalah tiga pola organisasi atau jenis-jenis kurikulum[15]:

1.    Separated- Subject Curriculum (al-Manhaj al-Dirasiyah)

       Separated- Subject Curriculum yaitu kurikulum yang terdiri dari atas mata pelajaran yang terpisah-pisah, terlepas dan tidak mempunyai kaitan sama sekali sehingga banyak jenis mata pelajaran menjadi sempit ruang lingkupnya. Bahan pembelajarannya disusun secara logis, sistematis dan sederhana dengan batas-batas nya yang ketat, oleh karena itu akan ada batas-batas bahan pembelajaran untuk tiap-tiap mata pelajaran dan tiap-tiap mata pelajaran disajikan sendiri.[16] Demikian pula kurikulum akan membentuk intelektual saja mempersempit tujuan pembelajaran, ditentukan oleh orang dewasa dan para ahli saja serta mengharuskan ada buku pegangan yang seragam yang dibuat oleh para ahli tersebut.

       Tyler dan Alexander dalam abdullah iddi yang dikutip oleh Nurjanah[17] menyebutkan bahwa jenis kurikulum ini digunakan dengan school subject. Hingga saat ini kurikulum jenis ini masih banyak didapatkan di berbagai lembaga pendidikan. Kurikulum ini terdiri dari mata-mata pelajaran yang tujuan pelajarannya adalah anak didik harus menguasai bahan dari tiap-tiap mata pelajaran yang ditentukan secara logis, sistematis, dan mendalam.

       Kurikulum mata pelajaran dapat menetapkan syarat-syarat minimum yang harus dikuasai anak sehingga anak didik bisa naik kelas. Biasanya bahan pelajaran dan textbook merupakan alat dan sumber utama pelajaran. Kurikulum mata pelajaran atau Subject Curriculum terdiri dari mata pelajaran (subject) yang terpisah-pisah, dan subject itu merupakan himpunan dan pengetahuan yang diorganisasikan secara logis dan sistematis oleh para ahli kurikulum.

       Di perguruan Tinggi Agama Islam misalnya pada fakultas Tarbiyah Progam Studi Pendiidkan Bahasa Arab ada mata kuliah Nahwu, Sharaf, Insya’, Khitabah, Muhadatsah, dan Muthala’ah, di madrasah-madrasah ada mata pelajaran al-Qur’an al-Hadist, Akidah Akhlaq, Srjarah Kebudayaan Islam dan Fiqh. Mata kuliah atau mata peljaran tersebut disajikan secara terpisah-pisah dan berdiri sendiri, seakan-akan ridak ada keterkaitan.

       Pengorganisasian separate- subject curriculum benar-benar disusun dengan berorientasi pada mata pelajaran (subject centered). Pengorganisasian kurikulum ini dilatarbelakangi oleh pandangan ilmu jiwa asosiasi, yang mengharapkan terbangunnya kepribadian yang utuh berdasarkan potongan-potongan pengetahuan. Kurikulum bentuk terpisah ini sangat menekankan pada pembentukan intelektual dan kurang mengutamakan pembentukan kepribadian peserta didik secara keseluruhan.

       Hal yang penting dalam pengorganisasian kurikulum ialah pengurutan (sequence) bahan pelajaran. Pengurutan harus dilakukan sedemikian rupa sehingga benar-benar terjaga kesinambungan bahan. Harus dihindari keterulangan bahan pelajaran yang sudah pernah dipelajari siswa di kelas sebelumnya, dan keterlewatan bahan pelajaran.

       Penyusunan kurikulum jenis ini dilakukan oleh tim. Tim ini terdiri atas para tokoh dan ahli pendidikan serta para ahli dalam disipli keilmuan tertentu. Mereka inilah yang menetapkan apakah yang diperlukan peserta didik kelak dalam kehidupannya di masyarakat. Jadi, dalam kurikulum ini memang sudah ditetapkan pengalaman-pengalaman apa saja yang akan ditempuh peserta didik dalam belajar. Oleh karena itu, biasanya bahan pelajaran dan bahan buku pelajarannya, telah disiapkan sebelumnya.

       Beradasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa akibat pengorganisasian kurikulum seperti itu. Pertama, karena dibangun oleh tim khusus, apalagi tingkat nasional, maka bisa dibayangkan adanya keseragaman yang terjadi. Untuk negara Indonesia yang begitu luas, dari Sabang hingga Merauke, ini sangat berebda kondisinya. Kedua, keberadaan buku pelajaran (paket) kerap menimbulkan salah penyikapan bahwa kurikulum itu buku pelajaran. Pada kasus ini terjadilah penyem-pitan subtansi. Keadaan ini biasanya menimpa guru yang tidak profesional. Apa pun yang terjadi, yang diajarkan dan disajikan kepada para paserta didik hanya buku paket itu saja. Sebaliknya, bagi guru yang profesional, ia tidak akan mau diperhamba oleh satu buku (paket) saja. Dia tentu akan menambah referensi lain untuk memperkaya, memperdalam dan menyesuaikan bahan pelajaran yang diajarkan selaras dengan kebutuhan peserta didik.

 

        Kelebihan- kelebihan separated- subject curriculum[18]:

a.        Bahan pelajaran tersajikan secara logis dan sistematis

        kurikulum ini, telah disiapkan dan disusun secara sitemtis, logis, dan berkesinmabungan. Penyusunan bahan telah menggunakan urutan yang tepat, dari yang mudah menuju sukar, dari yang sederhana menuju yang kompleks. Ilmu yang disampaikan kepada anak sudah dalam urutan logis sebgaimana yang telah ditata dan dipikirkan oleh para ahli. Dengan demikian, penggunaan kurikulum ini akan memudahkan guru dalam menyajikan materi, dan dipandang lebih efektif dan efisien, karena pihak sekolah dan guru tinggal menyampaikan saja.

b.        Organisasi kurikulum sederhana serta mudah direncanakan dan dilaksanakan

         mata pelajaran disikapi sebagai suatu satuan otonom, maka perhatian dan penyusunan bahan hanya sevatas mata pelajaran itu sendiri. Kesederhanaan inilah yang menjadikan kurikulum mudah disusun dan dilaksankan oleh para pengembang mapun guru. Kurikulum ini juga mudah untuk direorganisasi, ditambah, atau dikurangi. Penentuan jumlah, cakupan, dan urutan mata pelajaran tidak seberapa menumbulkan banyak amsalah.

        Berdasarkan pelaksanaan kurikulum, guru umumnya dapat berpegang pada buku pelajaran yang telah ditentukan, guru umumnya dapat berpegang pada buku pelajaran yang telah ditentukan, dan mengajarkan bab demi bab. Apa yang diajarkan sudah ditentukan lebih dahulu, sehingga guru dapat menyesuaikan jumlah waktu yang ditentukan dengan bahan pelajaran yang tersedia.

c.         Kurikulum mudah dinilai

        Kurikulum ini utamanya bertujuan menyampaikan sejumlah pengetahuan, pengertian, dan kecakapan-kecakapan tertentu yang mudah dinilai dengan tes. Bahan pelajaran pun bisa ditentukan dengan menetapkan buku-buku pelajaran yang harus digunakan oleh suatu daerah, atau bahkan satu negara.[19]

d.        Memudahkan guru sebagai pelaksana kurikulum

       Umumnya pendidikan guru mempersiapkan calon atau guru Itingkat sekolah lanjutan) untuk mengajarkan mata pelajaran tertentu. Dengan kurikulum ini, apa yang akan diajarkan guru sejalan betul dengan pengetahuan dan penaglkaman yang diperolehnya saat kuliah.

e.         Kurikulum ini juga dipakai diperguruan tinggi

       Manajemen kurikulum di perguruan tinggi pada umumnya menerapkan separated subject curriculum. Mahasiswa mempelajari bidang keilmuan secara terkonsentrasi. Karena saat di sekolah menengah mereka juga diajar dengan model kurikulum yang sama, maka para siswa lulusan sekolah menengah yang melanjutkan ke perguruan tinggi telah terbiasa dengan belajar dalam situasi kurikulum tersebut.

f.    Kurikulum ini mudah diubah

       Perubahan kurikulum yang terjadi umumnya didasarkan pada organisasi mata pelajaran. Penyesuaian kurikulum dengan kebutuhan zaman biasanya dilakukan dengan menambah mata pelajaran, bisa juga meluaskan atau menyempitkan materi pelajaran. Hal seperti ini tentu akan mudah dilaksanakan pada kurikulum yang diorganisasikan dengan cara separated subject curriculum.[20]

 

        Kelemahan-kelemahan separate subject curriculum.[21]

a.         Kurikulum ini memberikan mata pelajaran yang lepas-lepas, yang tidak berhubungan satu dengan yang lainnya.

b.        Kurikulum ini tidak memperhatikan masalah-masalah sosial yang dihadapi anak-anak dalam kehidupannya sehari-hari di masyarakat.

c.         Kurikulum ini kebanyakan hanya menyampaikan pengalaman umat manusia pada masa yang lampau, sehingga sedikit sekali materi yang terkait dengan masalah-masalah aktual kekinian.

d.        Kurikulum ini kurang mengembangkan kemampuan berfikir.

e.         Kurikulum ini cenderung menjadi statis dan ketinggalan jaman.

 

2.    Coorelated Curriculum (al-Manhaj al- tarabut)

       Coorelated Curriculum adalah kurikulum yang mata pelajarannya harus dihubungkan dan disusun sedemikian rupa sehingga yang satu dapat memperkuat dan melengkapi yang lain. Jadi d sini mata pelajaran itu dihubungkan antara satu dengan yang lainnya sehingga tidak berdiri sendiri.[22] Untuk memadukan antara pelajaran yang satu dengan yang lainnya, ditempuh dengan cara-cara korelasi antara lain:

 

a.    Korelasi okasional atau incidental, yaitu korelasi yang diadakan sewaktu-waktu bila ada hubungannya.

b.    Korelasi etis, yaitu yang bertujuan mendidik budi pakerti sebagai pusat pelajaran diambil agama atau budi pakerti.

c.    Korelasi sitematis, yaitu yang mana korelasi ini disusun oleh guru sendiri.

d.    Korelasi informal, yang mana kurikulum ini dapat berjalan dengan cara anatara beberapa guru saling bekerja sama, saling meminta untuk mengkorelasikan antara mata pelajaran yang dipegang guru A dengan mata pelajaran yang dipegang oleh guru B.

e.    Korelasi formal, yaitu kurikulum ini sebenarnya telah direncanakan oleh guru atau tim secara bersama-sama.

f.     Korelasi meluas (broad field), dimana korelasi ini sbenarnya telah direncanakan oleh guru atau tim secara bersama-sama.[23]

 

Organisasi kurikulum yang disusun dalam bentuk correlated ini memiliki beberapa keunggulan, antara lain:

a.    Adanya korelasi antara berbagai mata pelajaran yang dapat menopang kebulatan pengalaman dan pengetahuan peserta didik berhubung mereka menerimanya tidak secara terpisah-pisah.

b.    Adanya korelasi antara berbagai mata pelajaran memungkinkan peserta didik untuk menerapkan pengetahuan dan pengalamannya secara fungsional. Hal ini disebabkan mereka dapat memanfaatkan pengetahuan dari berbagai mata pelajaran untuk memecahkan berbagai persoalan yang dihadapinya[24].

 

Adapun kurikulum correlated curriculum memiliki kelemahan-kelemahan antara lain:

a.    Bentuk kurikulum ini pada hakikatnya masih bersifat subject centered dan belum memiliki bahan yang langsung dengan minat dan kebutuhan peserta didik serta masalah-masalah kehidupan sehari-hari.

b.    Penggabungan beberapa mata pelajaran menajdi satu kesatuan dengan lingkup yang lebih luas tidak memberikan pengetahuan yang sistematis dan mendalam. Pembicaraan tentang berbagai pokok masalah bagaimanapun juga tetap tidak dipadu, karena pada dasarnya masing-masing merupakan subjek yang berbeda. Rasanya hampir tidak mungkin menggunakan waktu yang hanya sedikit itu untuk memberikan berbagai pokok masalah yang sebenarnya berasal dari beberapa mata pelajaran yang berbeda.[25]

 

3.      Broad Field curriculum (al-Manhaj al-Majalat al-Wasi’ah)

Broad Field curriculum adalah bentuk kurikulum yang menhilangkan atau menghapus batas masing-masing mata pelajaran, kemudian menyatukan atau menggabungkan mata pelajaran yang berhubungan erat itu.

Bentuk kurikulum ini dapat digambarkan sebagai berikut[26]:

 Di dalam kurikulum sekolah sekarang dikenal ada enam broad field curriculum[27], yaitu:

a.    Pendidikan Agama Islam (Al-Qur’an dan al-Hadist, Akidah Akhlak, Sejarah Kebudayaan Islam dan Fiqh).

b.    Ilmu pengetahuan Sosial (Sejarah, Geografi, Ekonomi).

c.    Bahasa (Tata Bahasa, Mengarang, Menyimak, Kesusasteraan, dan Pengetahuan Bahasa)

d.    Ilmu Pengetahuan Alam (Fisika, Biologi, Kimia).

e.    Matematika (Berhitung, aljabar, Geometri, aritmatika).

f.     Kesenian (Seni Tari, Seni Lukis, Seni Suara, Seni Pahat, dan Seni Drama).

 

Di perguruan Tinggi Agama Islam misalnya pada semua fakultas ada mata kuliah Bahasa Arab yang sebenarnya adalah fungsi dari Nahwu, Sharaf, Insya’, Khitabah, Balaghah, muhadatsah, dan Muthala’ah.

a.    Bebrapa kelebihan broad field curriculum antara lain:

b.    Menunjukkan adanya integrasi pengetahuan kepada siswa.

c.    Dapat menambah internet dan minat siswa terhadap adanya hubungan antara berbagai bidang studi.

d.    Pengetahuan dan pemahaman siswa akan lebih luas, karena mendapatkan penjelasan dari berbagai keilmuan.

e.    Adanya kemungkinan untuk menggunakan ilmu pengetahuan lebih fungsional dalam memecahkan suatu masalah kehidupan.

f.     Lebih mengutamakan pola pemahaman atau pengertian dan prinsip-prinsip dari pada pengetahuan dan penguasaan fakta-fakta.

 

Beberapa kelemahan broad field curriculum antara lain:

a.    Bahan yang disajikan tidak berhubungan secara langsung dengan kebutuhan, minat dan masalah aktual yang dihadapi oleh siswa.

b.    Pengetahuan yang diberikan dangkal dan tidak mendalam serta kurang sistematis pada berbagai mata pelajaran. Pengetahuan diperoleh hanya sebataspengantar dalam berbagai keilmuan, tetapi tentunya tidak mencukupi untuk masuki perguruan tinggi.

c.    Urutan penyusunan dan penyajian bahan tidak secara logis dan sitematis.

d.    Kebanyakan diantara guru kurang menguasai berbagai disiplin ilmu (interdisipliner), sehingga dapat mengaburkan pemahaman siswa.[28]

 

4.        Integrated Curriculum (al-Manhaj al-Mutakamilah)

Integrated Curriculum meniadakan batas-batas antara berbagai mata pelajaran dan menyajikan bahan pelajaran dalam bentuk unit atau keseluruhan. Dengan kebulatan bahan pelajaran diharapkan mampu membentuk murid yang integral, selaras dengan kehidupan sekitarnya, apa yang diajarkan di sekolah disesuaikan dengan kehidupan anak di luar sekolah.[29]

Apa yang disajikan di sekolah, disesuaikan dengan kehidupan anak di luar sekolah. Pelajaran di sekolah membantu siswa dalam menghadapi berbagai persoalan di luar sekolah, biasanya bentuk kurikulum semacam ini dilaksanakan melalui pelajaran init. Dimana satu mempunyai tujuan yang mengandung makna bagi siswa yang yang dituangkan dalam bentuk masalah.

Ada kecenderungan selama ini guru mengemas pengalaman belajar siswa terkotak-kotak dengan tegas anatara satu bidang studi dengan bidang yang lainnya, pembelajaran yang memisahkan penyajian mata pelajaran secara tegas hanya akan membuat kesulitan belajar bagi siswa, karena pemisahan seperti itu hanya akan memberikan pengalaman belajar yang bersifat artifisial. Sementara itu, disekolah dasar khususnya di kelas-kelas rendah para siswa lebih menghayati pengalaman belajarnya secara totalitas, siswa mengalami kesulitan dengan adanya pemisahan pengalaman belajar seperti itu.[30]

Contoh kurikulum yang terintegrasi adalah sebagai berikut:

           Beberapa manfaat kurikulum yang integrated ini dapat disebut sebagai berikut:

a.       Segala sesuatu yang dipelajari anak merupakan unit yang bertalian erat, bukan fakta yang terlepas satu sama lain.

b.      Kurikulum ini sesuai dengan pendapat-pendapat modern tentang belajar, murid dihadapkan kepada masalah yang berarti dalam kehidupan mereka.

c.       Kurikulum ini memungkinkan hubungan yang erat antara sekolah dengan masyarakat.

d.      Aktifitas anak-anak meningkat karena diransang untuk berpikir sendiri dan bekerja sendiri atau bekerjasama dengan kelompok.

e.       Kurikulum ini mudah disesuaikan dengan minat, kesanggupan dan kematangan murid.[31]

 

Melalui Integrated Curriculum penyajian mata pelajaran disajikan dengan menyeluruh dalam bentuk unit atau keseluruhan. Model kurikulum ini menghilangkan batas-batas antara mata pelajaran sehingga tidak dibenarkan mata pelajaran berdiri sendiri. Dengan menyeluruh dan kebulatan diharapkan bisa membentuk anak-peserta didik yang integrated yaitu siswa-siswa yang selaras kehidupannya dengan ilmu pengetahuan yang dipelajari.

Siswa melihat dirinya sebagai pusat lingkungan yang merupakan keseluruhan yang belum jelas unsur-unsurnya dengan pemaknaan holistik yang berangkat dari yang bersifat konkrit. Pemilihan model atao metode pembelajaran yang sesuai dengan tujuan kurikulum dan potensi merupakan kemampuan dan keterampilan dasar yang harus dimiliki guru. Sukamadinata menjelaskan bahwa Kurikulum merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pendidikan dan pengajaran. Oleh karena itu guru sebagai pendidik harus mempunyai potensi untuk memilih model pembelajaran yang dapat digunakan sesuai dengan karakteristik siswa dan tuntutan kurikulum.[32]

     Kelemahan-kelemahan integrated curriculum adalah sebagai berikut:

a.    Guru-guru kita belum disiapkan untuk melaksanakan kurikulum ini.

b.    Kurikulum ini tidak punya organisasi secara sistematis.

c.    Kurikulum ini memeberatkan tugas guru.

d.    Kurikulum ini tidak memungkinkan ujian umum sebab tidak ada uniformanitas di sekolah-sekolah satu sama lain.

e.    Anak-anak diragukan untuk bisa diajak menentukan kurikulum.

f.     Pada umumnya kondisi sekolah masih kekurangan alat-alat untuk melaksanakan kurikulum ini[33].

 

Menurut Dakir[34] Sekolah-sekolah yang “progesif” berangsur-angsur meninggalkan kurikulum yang subject-centered, karena dianggap tidak menghasilkan pribadi yang harmonis. Karena itu pelajaran disusun sebagai keseluruhan luas yang disebut “broad unit”. Unit sendiri mempunyai beberapa ciri-ciri, yakni sebagai berikut:

a.    Unit merupakan suatu keseluruhan yang bulat.

b.    Unit menghapus batas-batas pelajaran.

c.    Unit didasarkan pada pendapat-pendapat modern mengenai cara belajar didasarkan pada pusat minat dari anak).

d.    Unit memerlukan waktu yang lebih panjang dibandingkan dengan mata pelajaran yang biasa dari kurikulum tradisional.

e.    Unit bersifat “life cintered” (berhubungan dengan kehidupan).

f.     Unit memanfaatkan dengan wajar dari dalam diri anak yang belajar.

g.    Dalam unit anak dihadapkan kepada situasi-situasi yang mengandung problem.

h.    Unit dengan sengaja memajukan perkembangan sosial kepada anak-anak.

i.      Unit direncanakan bersama oleh guru dan murid.[35]

 

Berdasarkan uraian diatas dapat ditarik kesimpulan yaitu Kebaikan dari bentuk unit adalah menyeluruh, misalnya permasalahan dan problem yang terkandung dalam suatu pokok masalah akan diteliti oleh murid secara menyeluruh dengan mengbungkan dengan berbagai disiplin ilmu untuk menemukan tujuan unit tersebut.

 

 

 

D.    Hubungan antar Bentuk Kurikulum

       Nasution yang dikutip oleh Zaini, memandang bahwa macam-macam bentuk kurikulum itu tidak perlu dipandang bertentangan antara yang satu dengan yang lain. Justru diantara bentuk-bentuk itu dapat saling membantu dan melengkapi. Tidak ada bentuk yang paling mutlak benar atau paling baik, semua bentuk kurikulum itu memiliki kelebihan dan kelemahan.[36] Sehingga perlu mengadopsi semua bentuk itu pada saat-saat tertentu atau pada mata pelajaran tertentu yang relevan dengan pokok bahasan.

       Untuk permulaan, tidak diharapkan seluruh kurikulum diberikan dalam bentuk unit. Sebaiknya kita masih mengajarkan subjects dan disamping itu memberikan dua atau tiga kali seminggu pelajaran dalam bentuk unit. Dalam pada itutentu sangat menggantungkan apabila unyuk mata pelajaran biasa diambil bahan yang berhubungan dengan unit itu. Pengajaran unit dapat dan perlu pula dibantu oleh subjects. Apabila dalam unit itu timbul soal-soal yang bersifat matematis, sudah sewajarnya mata pelajaran ilmu pasti digunakan untuk memecahkan problem. Demikianlah setiap mata pelajaran dihapuskan. Hal ini malahan akan merugikan.[37]

       Sparated subjects dalam bentuk pelajaran akan memperoleh manfaat dari bentuk unit. Karena dalam pembelajaran unit, para siswa akan mendapatkan banyak hal yang berkaitan dengan berbagai mata pelajaran dalam situasi yang bermakna dan fungsional. Mereka lebih terlatih untuk menyampaikan pendapat, fasih berbicara, lebih terampil menyusun laporan, lebih mampu mengaplikasikan ilmu pengetahuannya secara fungsional dalam kehidupan sehari-hari. Jadi sesungguhnya pembelajaran dalam bentuk unit sama sekali tidak merugikan bahkan sangat membantu pembelajaran dalam bentuk sparated subjects.

       Berdasarkan uraian diatas dapat ditarik kesimpulan, dalam broad field curriculum, apapun kebaikan yang di dalam sparated subject curriculum juga terjadi pada broad field curriculum, yakni paduan antara beberapa mata pelajaran yang serumpun seperti PAI, IPA, IPS, Bahasa, Matematika, dan kesenian. Ketiga bentuk kurikulum tersebut bisa saling membantu dan saling melengkapi.


 

BAB III

PENUTUP

 

A.    Kesimpulan

            Organisasi kurikulum merupakan struktur progam kurikulm yang berupa kerangka umum pendidikan atau pembelajaran yang hendak disampaikan kepada peserta didik guna tercapainya tujuan pendidikan atau pembelajaran yang diterapkan. Proses pengembangan organisasi kurikulum berperan sebagai suatu metode untuk menentukan seleksi dan pengorganisasian pengalaman-pengalaman belajar yang diselenggarakan oleh sekolah, organisasi kurikulum menunjukkan peranan guru, peserta didik dan lain-lain yang terlibat aktif dalam proses perencanaan kurikulum.

            Prosedur pengorganisasian kurikulum menurut meliputi beberapa aspek yaitu prosedur buku pelajaran, prosedur survei pendapat, prosedur studi kesalahan, prosedur mempelajari kurikulum lainnya, analisis kegiatan orang dewasa, prosedur fungsi sosial, prosedur minat kebutuhan.

            Jenis-jenis organisasi kurikulum memiliki bermacam-macam bentuk kurikulum, namun berbagai bentuk kurikulum itu ada pengaruhnya terhadap pemikiran tentang kurikulum dan sering pula dalam pelaksanaannya dapat dimodifikasikan, diperkaya dan disesuaikan dengan pemikiran-pemikiran baru tentang kurikulum. Adapun jenis-jenis organisasi kurikulum didalamnya mencakup separated-subject curriculum, corelated curriculum, broad field curriculum dan integrated curriculum.

            Hubungan antar bentuk kurikulum saling melengkapi. Karena pada kenyataannya semua bentuk kurikulum mempunyai kelebihan disamping memiliki kekurangan masing-masing. Sehingga perlu mengadopsi semua bentuk pada saat-saat tertentu atau pada mata pelajaran tertentu yang relevan dengan pokok bahasan. Apabila hanya memilih salah satu bentuk kurikulum itu tentu akan menimbulkan masalah, karena kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa paling tidak ada tiga aspek yaitu kognitif, efektif, dan psikomotorik.

 

 

B.     Saran

            Demikian makalah dari kami semoga dapat memberikan manfaat dan menambah wawasan kita semua. Adapun saran yang ingin disampaikan adalah:

1.      Kepada para pendidik harus mampu mengorganisasikan kurikulum sehingga tujuan pendidikan bisa dicapai;

2.      Kepara para pembaca/ calon guru semoga bisa mengambil pengalaman dari makalah ini mengenai organisasi kurikulum dam mencapai tujuan pendidikan:

3.      Apabila ada kritik dan saran, silakan sampaikan langsung kepada kami. Karena ktitik dan saran dari pembaca tentu sangat dibutuhkan untuk bahan intropeksi. Sehingga di masa yang mendatang, kami dapat menyusun makalah yang lebih baik lagi. Dan jika ada kesalahan mohon domaafkan, karena kami hanyalah hamba Allah SWT yang tidak luput dari khilaf dan lupa.

           

             


 

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Zainal. 2011. Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Baharun, Hasan. 2017. Pengembangan Kurikulum. Yogyakarta: CV. Cantrik Pustaka.

Dakir. 2004. Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum.Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Pengembangan Kurikulum SD. Jakarta : Pusat Kurikulum Balitbang Departemen Pendidikan Nasional.

Habib, Abdul Qur’ani. 2014. Organisasi Kurikulum dalam Pendidikan, Yogyakarta: Suka Press.

Nasution, S. 2006. Asas-asas Kurikulum. Jakarta: Bumi Aksara.

Nizar, saifun. 2011. Jenis Kurikulum Berdasarkan struktur dan Materi Mata Pelajarannya. Balikpapan: STAI Balikpapan Press.

Nurjanah, Asih. 2016. Model Kurikulum Terpadu dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Malang: UIN Malang Press.

Nurgianto, Burhanudin. 2008. Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum Sekolah. Yogyakarta: BPFE.

Rahnang, R. 2014. Organisasi Kurikulum Bahasa Arab. Jurnal Ilmiah Islam Futura Vol. 8. No. 1.

Sa’ud, Udin Saefudin. 2008. Inovasi Pendidikan, Bandung: Alfabeta.

Sukamadinata, Nana Syaodih. 2014. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Sulaiman, S. Agustus 2013. Pola Modern Organisasi Pengembangan Kurikulum. Jurnal Ilmiah Didaktik Vol. XIV, NO. 1.

Winarso, Widodo. 2015. Dasar Pengembangan Kurikulum Sekolah. Cirebon: CV Confident.

Zaini, Muhammad. 2009. Pengembangan Kurikulum. Yogyakarta: Teras.



[1] S. Nasution, Asas-asas Kurikulum, (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), hal. 176

[2] Abdul Qur’ani Habib, Organisasi Kurikulum dalam Pendidikan, (Yogyakarta: Suka Press, 2014), hal. 3

[3] R. Rahnang, Organisasi Kurikulum Bahasa Arab. Jurnal Ilmiah At-Turats Vol. 8. No. 1, Tahun 2014, hal. 3-4

[4] Widodo winarso, Dasar Pengembangan Kurikulum Sekolah,  (Cirebon: CV Confident, 2015), hal. 62

[5] Ibid, hal. 63-64

[6] S. Sulaiman. Pola Modern Organisasi Pengembangan Kurikulum. Jurnal Ilmiah Didaktik Vol. XIV, NO. 1, Agustus 2013, hal. 2-3

[7] Muhammad Zaini. Pengembangan Kurikulum. (Yogyakarta: Teras, 2009), hal. 61

[8] Hasan Baharun, dkk. Pengembangan Kurikulum.  (Yogyakarta: CV. Cantrik Pustaka, 2017) hal. 45-47

[9]Ibid, hal. 48

[10] Zainal Arifin. Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum. (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2011) hal. 104-106

[11] Rahnang, Organisasi Kurikulum..., hal. 4

[12] Zaini, Pengembangan Kurikulum, hal. 64

[13] Ibid, hal. 65.

[14] Asih Nurjanah,  Model Kurikulum Terpadu dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam.  (Malang: UIN Malang Press, 2016), hal 20-21

[15] Ibid, Hal. 22

[16] Zaini,  Pengembangan Kurikulum, hal 66

[17] Asih Nurjanah, Model Kurikulum..., hal. 25.

[18] Departemen Pendidikan Nasional, Pengembangan Kurikulum SD. (Jakarta : Pusat Kurikulum Balitbang Departemen Pendidikan Nasional,  2008), hal. 6

[19] Ibid, hal. 7

[20] Ibid, hal. 8

[21] Zaini, Pengembangan Kurikulum, hal. 67-68

[22] Ibid, hal. 69

[23] Saifun Nizar, Jenis Kurikulum Berdasarkan struktur dan Materi Mata Pelajarannya, (Balikpapan: STAI Balikpapan Press, 2011), hal. 5-6

[24] Zaini, Pengembangan Kurikulum, hal. 69

[25] Nizar, Jenis Kurikulum..., hal. 8

[26] Sulaiman, Pola Modern..., hal. 8.

[27] Zaini, Pengembangan Kurikulum, hal. 69.

[28] Ibid, hal. 70-71

[29] Sulaiman, Pola Modern..., hal. 10.

[30] Udin Saefudin Sa’ud, Inovasi Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2008), hal. 112

[31] Sulaiman, Pola Modern..., hal. 11

[32] Nana syaodih Sukamadinata, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2014) hal. 3.

[33] Burhanudin Nurgianto, Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum Sekolah, (Yogyakarta: BPFE, 2008), cet. II, hal. 121

[34] Dakir, Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2004), hal. 198

[35] Mulyasa, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, (Bandung: PT. Rosda Karya, 2007), hal. 154

[36] Zaini, Pengembangan Kurikulum, hal. 74

[37] S. Nasution, Asas-asas Kurikulum, hal. 218

Posting Komentar

0 Komentar