Pengertian Filsafat Pendidikan Beserta Referensinya

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Diskusi mengenai filsafat pendidikan islam senantiasa menarik. Sebab filsafat menyangkut keseluruhan sistem dan bangunan pendidikan islam dari hulu sampai ke hilir. Meskipun wacana filosofis kerap berkutat pada tataran abstrak, relasi konsekuensial dari filsafat pendidikan islam dapat terdeteksi dengan mudah pada seluruh tataran dan variabel pendidikan islam jelas sekali terkait pada kejelasan perumusuan filosofinya.[1]

Dasar-dasar filsafat pendidikan yang ada dalam al-Qur’an dan Hadist Nabawi jelas merupakan modal awal yang sangat kuat. Pada abad ke-7 Masehi, tidak ada elaborasi filsafat pendidikan sebaik dan selengkap apa yang dimiliki oleh umat Islam. Akan tetapi, bahkan filsafat pun tidak berkembang dalam ruang hampa. Filsafat pendidikan islam pun mengambil hal yang sama. Modal dasar yang diberikan oleh wahyu tersebut kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh umat Islam. Dalam hal pekembangan ini sangat diperlukannya tahapan-tahanpan evaluasi untuk berkembang dalam kerangka dan sejalan dengan perkembangan peradapaban Islam secara umum.

Evalusi merupakan salah satu komponen dari sistem pendidikan yang harus dilakukan secara sistematis dan terencana sebagai alat untuk mengukur keberhasilan atau target yang akan di capai dalam proses pendidikan dan pembelajaran. Evalusi pada dasarnya adalah memberikan pertimbangan atau harga atau nilai berdasarkan kriteria tertentu. Evaluasi dalam pendidikan islam merupakan cara atau teknik penilaian terhadap tingkah laku anak didik berdasarkan standar perhitungan yang bersifat komprehensif dan seluruh aspek kehidupan mental-psikologi dan spiritual religius, karena manusia bukan saja sosok pribadi yang hanya bersikap religius, melainkan juga berilmu dan berketerampilan yang sanggup beramal dan berbakti kepada tuhan dan masyarakat.[2]

 

B.     Rumusan Masalah

1.      Apakah pengertian,hakikat, fungsi, serta kedudukan dalam Pendidikan Islam?

2.      Apakah ciri-ciri, alat-alat, prinsip-prinsip evaluasi dalam Pendidikan Islam?

C.    Tujuan Masalah

1.      Untuk mengetahui pengertian, fungsi, serta kedudukan dalam Pendidikan Islam.

2.      Untuk mengetahui ciri-ciri, alat-alat, prinsip-prinsip evaluasi dalam Pendidikan Islam.


 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.    Evaluasi

1.      Pengertian Evaluasi

Secara etimologi, kata evaluasi berasal dari bahasa Inggris: evaluation, akar katanya value yang berarti nilai atau harga. Istilah evaluation berarti tindakan atau proses untuk menentukan nilai sesuatu atau segala sesuatu yang ada hubungannya dengan pendidikan.

Dalam bahasa Arab, evaluasi dikenal dengan istilah imtihan, yang berarti ujian. Dikenal juga dengan istilah khataman sebagai cara menilai hasil akhir dari proses pendidikan.

Para ahli mendfinisikan evaluasi sebagai berikut:

a.       Menurut Edwin Wandt evaluasi mengandung pengertian satu tindakan atau proses dalam membentuk nilai sesuatu.

b.      Menurut M.Chabibi Thoha evaluasi merupakan kegiatan yang terencana untuk mengetahui keadaan objek dengan menggunakan instrument dan hasilnya dibandingkan dengan tolak ukur untuk memperoleh kesimpulan.[3]

Evaluasi dalam wacana keislaman tidak dapat ditemukan padanan yang pasti, tetapi terdapat term-term tertentu mengarah pada makna evaluasi. Menurut Rumayulis dan Samsul Nizar term-term tersebut adalah:

 

a.       Al-Hisab, memiliki makna mengira, menafsirkan, dan menghitung. Hal ini dapat dilihat pada firman Allah SWT.

للهِ ما فى السماواتِ وَمَا فى الأرْضِ و إِنْ تُبْدُوا ما فى أَنفُسِكم أَوْ تُخْفُوْهُ يُحَاسبكم بِهِ اللهُ فيغفِرُ لمنْ يَشَاءُ و اللهُ على كلِّ شَىءٍ قَديرٌ.

       Artinya:”Milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Jika kamu nyatakan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu sembunyikan, niscaya Allah memperhitungkannya (tentang perbuatan itu) bagimu. Dia mengampuni siapa yang dia kehendaki dan mengazab siapa yang dia kehendaki. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu”(QS.al-Baqarah:284).           [4]

b.      Al-Bala’, memiliki makna cobaan, serta ujian. Misalnya dalam firman Allah SWT:

الَّذِى خلق الموْتَ و الحياةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عملا وَ هُوَ العَزِيْزُ الغفورُ.

                                       Artinya:”Yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu yang lebih baik amalnya” (QS.al-Mulk 2).

c.       Al-Hukm, memiliki makna putusan atau vonis. Misalnya dalam firman Allah SWT:

إِنَّ رَبَّكَ يَقْضِ بَيْنَهُمْ بِحُكْمِهِ و هُوَ العَزِيْزُ العلِيْمُ.

                                       Artinya:”Sesungguhnya Tuhanmu akan menyelesaikan perkara antara mereka dengan putusan-nya, dan dia maga perkasa dan maha mengetahui” (QS. Al-Naml 78).

d.      Al-Qadha, memiliki arti putusan. Misalnya dalam firman Allah SWT:

قالُوا لَنْ نُؤْشِرَكَ على ما جاءنا منَ البيِّناتِ و الذى فطرَنا فَقْضِ ما أَنتَ قاضٍ إنَّما تقْضِ هَذِهِ الحياةَ الدُّنيا.

Artinya:”maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan, sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja” (QS.Thaha 72).

 

e.       Al-Nazr, memiliki arti melihat. Misalnya firman Allah SWT:

قال سنَنْظُرُ أَصَدَقْتَ أَمْ كُنتَ مِنَ الكَاذبِيْنَ.

Artinya: “Sulaiman berkata: Akan kami lihat, apakah kamu benar-benar ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta” (QS. Al-Naml 27)

                                     Oleh karena itu, yang dimaksud evaluasi dalam pendidikan Islam adalah pengambilan sejumlah keputusan yang berkaitan dengan pendidikan islam guna melihat sejauh mana keberhasilan pendidikan yang selaras dengan nilai-nilai islam sebagai dari pendidikan islam itu sendiri.

                                     Jadi evaluasi pendidikan islam yaitu kegiatan penilaian tingkah laku peserta didik dari keseluruhan aspek mental-psikologis dan spiritual religius dalam pendidikan islam, dalam hal ini tentunya yang menjadi tolak ukur adalah al-qur’an dan al-hadist. Evaluasi harus dilakukan dengan tepat, cermat dan akuntable. Sebab demikian, evaluasi dapat menggambarkan kemajuan belajar siswa secara objektif, sehingga tidak akan merugikan siswa itu sendiri mapun stakeholder yang lainnya, termasuk masyarakat dan negara. Dengan pelaksanaan evaluasi ini bukan hanya pendidik juga keseluruhan aspek atau unsur pendidikan islam.

 

2.      Hakikat Evaluasi

Teori hakikat jika dihubungkan dengan evaluasi dalam filsafat pendidikan islam, maka tergambarlah di dalam pikiran bahwa salah satu ciri penyelidikan filsafat adalah bersifat radikal, yakni penyelidikan yang mendalam, menukik sampai kepada inti atau akar permasalahan dan menyeluruh tentang evaluasi belajar dan pembelajaran.

Dalam evaluasi pendidikan, ada empat komponen saling terkait dan merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Artinya, kegiatan evaluasi harus melibatkan kegiatan lainnya, yaitu penilaian, pengukuran, dan tes (nontes).[5]

Dalam mendefinisikan evaluasi, secara harfiah berasal dari bahasa inggris “evalution” dalam bahasa Arab: al-Taqdir (التقدير) dalam bahasa Indonesia berarti: Penilaian. Akar katanya adalah Value; dalam bahasa Arab: (al-Qimah: القيمة)). Dengan demikian secara harfiah, evaluasi pendidikan dapat diartikan sebagai penilaian dalam bidang pendidikan atau hal-hal yang berkenaan dengan kegiatan pendidikan.

Rangkaian akhir dari suatu proses kependidikan Islam adalah evaluasi. Berhasil atau tidaknya pendidikan Islam dalam mencapai tujuannya dapat dilihat setelah dilakukannya evaluasi terhadap output yang dihasilkannya. Karena itu secara umum dapat dikemukakan kegunaan evaluasi dalam pendidikan Islam. Pertama, dari segi pendidik, evaluasi berguna untuk membantu seorang pendidik mengetahui sudah sejauh mana hasil yang dicapai dalam pelaksanaan tugasnya. Kedua, dari segi peserta didik, evaluasi berguna membantu peserta didik untuk dapat mengubah atau mengembangkan tingkah lakunya secara sadar ke arah yang lebih baik. Ketiga, dari segi ahli pikir pendidikan Islam, evaluasi berguna untuk membantu para pemikir pendidikan Islam dan membantu mereka dalam merumuskan kembaliteori-teori pendidikan Islam dan membantu mereka dalam merumuskan kembali teori-teori pendidikan Islam yang relevan dengan arus dinamika zaman yang senantiasa berubah. Keempat, dari segi politik pengambil kebijakan pendidikan Islam (pemerintah), evaluasi berguna untuk membantu mereka dalam membenahi sistem pengawasan dan mempertimbangkan kebijakan yang akan diterapkan dalam sistem pengawasan dan mempertimbangkan kebijakan yang akan di terapkan dalam sistem pendidikan Nasional (Islam).

Kegunaan tersebut dimaksudkan untuk mengetahui kebaikan dan kelemahan pendidikan Islam dalam berbagai aspeknya dalam rangka peningkatan kualitasnya ke masa depan. Hal ini berarti bahwa proses evaluasi dalam pendidikan Islam memiliki umpan balik (feed back) yang positif sifatnya ke arah perbaikan pendidikan Islam.

3.      Fungsi Evaluasi

Evaluasi sebagai suatu proses pendidikan memiliki beberapa fungsi yaitu:

a)      Untuk memberikan umpan balik (feed back) kepada guru sebagai dasar untuk memperbaiki proses belajar mengajar.

b)      Untuk menentukan angka kemampuan atau hasil belajar masing-masing murid yang antara laim diperlukan kenaikan kelas dan penentuan lulus tidaknya murid.

c)      Untuk menentukan murid dalam situasi belajar mengajar yang tepat, sesuai dengan tingkat kemampuannya.

d)      Untuk mengenal latar belakang (psikologi fisik dan lingkungan) murid yang mengalami kesulitan belajar.[6]

Sehubungan dengan keempat fungsi yang dikemukakan di atas, evaluasi hasil Belajar (EHB) dapat digolongkan ke dalam empat jenis:

a)      Evaluasi Formatif       :Evaluasi yang dilaksanakan untuk mengetahui hasil belajar yang dicapai oleh anak didik setelah menyelesaikan progam dalam satuan bahan pelajaran pada bidang studi tertentu.

b)      Evaluasi Sumatif         : Evaluasi yang dilakukan terhadap hasil belajar murid yang telah selesai mengikuti pelajaran dalam satu catur wulan, semester atau akhir tahun.

c)      Evaluasi Penempatan  :Yang dilaksanakan untuk keperluan menempatkan murid pada situasi belajar mengajar yang tepat, sesuai dengan tingkat kemampuan atau karakteristik lain yang dimilikinya.

d)      Evaluasi Diagnostik    :Yang dilaksanakan untuk keperluan mengenai latar belakang (psikologi fisik, linglungan) dan murid yang mengalami kesulitan-kesulitan belajar.

4.      Kedudukan evaluasi dalam pendidikan islam

Evaluasi pendidikan mempunyai kedudukan yang sangat strategis karena hasil dari kegiatan evaluasi dapat digunakan sebagai input untuk melakukan perbaikan dalam kegiatan belajar. Ajaran Islam yang juga menaruh perhatian yang besar terhadap evaluasi. Allah berfirman dalam al-Qur’an yang memberitahukan kepada kita, bahwa evaluasi terhadap manusia didik merupakan suatu tugas penting dalam rangkaian proses pendidikan yang harus dilakukan oleh pendidik. Hasil ini sesuai dengan firman Allah SWT. Dalam QS.al-Baqarah ayat 31-32, yaitu:

وَعَلَّمَ آدَمَ الأسْمَاءَ كُلُّها ثُمَّ عَرَضَهُمْ على الملائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِى بِأَسْمَاءِ هَؤُلاءِ إِنْكُنْتُمْ صاديِقِيْنَ (31)

قالُوا سُبْحانكَ لا عِلْمَ لَنا إِلاَّ ما علَّمتَنَا إِنَّكَ أنْتَ العليْمُ الحَكيمُ (32)

Artinya:”Dan dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian dia perlihatkan kepada para malaikat, seraya berfirman, Sebutkan kepada ku nama semua (benda) ini, jika kamu yang benar! (31), Mereka menjawab, Mahasuci engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah engkau ajarkan kepada kami. Sungguh, engkaulah yang maha mengetahui, Maha bijaksana(32)”.[7]

 

Dari ayat di atas ada empat hal yang harus diketahui yaitu Allah swt. Telah bertindak sebagai guru yang memberikan pelajaran kepada Nabi adam A.S, maka para malaikat tidak bisa menyebutkan nama-nama benda itu, Allah swt. Telah meminta pada Nabi Adam A.S agar mendemonstrasikan ajaran yang telah diterimanya dihadapan para malaikat, ayat tersebut mengisyaratkan bahwa materi evaluasi atau yang di ujikan haruslah sesuai dengan materi yang diajarkan.


 

B.     Subjek dan Objek Evalusi Pendidikan Islam

1.      Subjek dan Objek Evaluasi

Subjek atau pelaku evaluasi pendidikan ialah orang yang melakukan pekerjaan evaluasi dalam bidang pendidikan. Dengan sendirinya subjek evaluasi pendidikan di sekolah adalah pendidikan (guru). Sedangkan objek evaluasi pendidikan Islam dalam arti umum adalah peserta didik. Sementara dalam arti khusus adalah aspek-aspek tertentu yang terdapat pada peserta didik, di samping sebagai objek juga sebagai subjek. Oleh karena itu, evaluasi pendidikan islam dapat dilakukan dengan dua cara: pertama, evaluasi diri sendiri (self evaluation intropeksi) kedua, evaluasi terhadap orang lain (peserta didik).[8]

Evaluasi terhadap diri sendiri adalah dengan mengadakan intropeksi atau perhitungan terhadap diri sendiri. Penilaian yang baik mendapatr surga, sedangkan hasil penilaian yang buruk mendapat neraka. Umar Bin Khatab juga berkata: “hasibu qpbla an tuhasabu” (evaluasilah dirimu sebelum engkau di evaluasi).

Evaluasi diri terhadap orang lain (peserta didik) merupakan bagian dari kegiatan pendidikan Islam. Evaluasi dalam konteks “ amar ma’ruf dan nahi munkar “, yang dibiarkan berlarut-larut dan menyeluruh sehingga peserta didil tidak tenggelam dalam kebimbingan, kebodohan, kezaliman, dan dapat melakukan perubahan secara cepat ke arah yang lebih baik dari perilaku sebelumnya.

 

2.      Alat-alat evaluasi

Alat-alat pendidikan adalah segala sesuatu, alat atau media pendidikan yang meliputi segala yang digunakan untuk mencapai tujuan. Alat-alat pendidikan yang secara langsung dipergunakan dalam penyampaian materi pendidikan, hendaknya alat-alat pendidikan yang dapat lebih banyak melibatkan indra siswa. Menurut penelitian para ahli dikatakan bahwa pendidikan yang hanya melibatkan indera pendengaran saja, maka materi pelajaran yang dapat diserap hanya meliputi 15% saja. Sedangkan bilamana di tambah indera penglihatan, maka akan dapat menyerap materi pelajaran sebanyak 35-55%. Dan bilamana mempergunakan indra penglihatan, pendengaran ditambah indera penggerak dan digunakan pikiran, maka materi yang dapat diserap akan lebih banyak lagi yakni antara 80-90%.[9]

Menurut Ahmad D. Marimba mengatakan bahwa dilihat dari fungsi, alat-alat pendidikan adalah sebagai berikut:

a.       Alat sebagai perlengkapan

Keberadaan alat ini tidak mutlak. Artinya, tanpa perlengkapan ini pun, tujuan masih bisa di capai. Kursi umpamanya, merupakan alat perlengkapan dalam pendidikan. Namun, tanpa kursi pun pendidikan masih bisa berlangsung. Orang masih bisa memperoleh pendidikan dengan duduk di masjid atau berdiri di lapangan terbuka pada suatu pengajian.

b.      Alat sebagai pembantu mempermudah usaha tujuan

Ditinjau dari pandangan yang lebih dinamis, alat merupakan pembantu untuk mempermudah terlaksananya proses pendidikan dalam rangka mencapai tujuannya. Oleh sebab itu, dalam menggunakan alat hendaknya dapat memilih alat mana yang paling efektif dan efisen untuk mencapai tujuan.

                                    Pemakaian alat-alat pendidikan bagi para pendidik dengan tugasnya dituntut untuk menyempurnakan alat –alat pendidikan yang penting disamping itu pula keterampilan seorang pendidik dalam pemakaian alat-alat pendidikan banyak menentukan kesuksesan pendidikan.

3.      Prinsip-prinsip Evaluasi

Supaya evaluasi dapat menilai apa yang seharusnya dinilai, menghasilkan data yang akurat dan bermakna, maka dalam pelaksanaanya harus menerapkan prinsip-prinsip umum yaitu: valid, berorientasi pada kompetensi berkelanjutan, menyeluruh, bermakna, adil, terbuka, ihlas dan praktis. Mujib menyetakan supaya hasil evaluasi dapat meberikan gambaran yang menyeluruh, maka dalam melaksanakan evaluasi harus memperhatikan berbagai prinsip yaitu[10]:

 

a.       Prinsip kesinambungan

Dengan prinsip kesinambungan tersebut keputusan yang diambil akan menjadi valid dan stabil, karena dilakukan dengan terus menerus dan teratur, hal ini dapat memberikan informasi ketercapaian kompetensi yang dimiliki peserta didik sejak memasuki progam sampai ahli progam, ayat yang berkenaan dengan prinsip tersebut Q.S al-Ahqaf:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

                                      Artinya: Sesungguhnya orang yang mengatakan “tuhan kami ialah allah,” kemudian mereka tetap istiqomah maka tidak ada kekwatiran terhadap mereka tiada pulaberduka cita (13). Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan (14).

Ayat ini menjelaskan bahwa orang-orang yang percaya bahwa tuhan kami adalah allahmereka tidak digoyahkan oleh aneka godaan serta ujian dan mereka tetap istiqomah yaitu konsisten dalam ucapan dan perbuatan. Lebih lanjur Shihab menjelaskan bahwa kata istiqomah menurut bahasa berarti pelaksanaan sesuatu secara baik dan benar serta bersinambung.

 

b.      Prinsip menyeluruh

Prinsip ini memperhatikan banyak aspek seperti aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap, ayat berkaitan dengan prinsip tersebut Q.S. al-Zalzalah: 7-8

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَه (7) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَه (8)

Artinya: barangsiapa yang mengertjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya (7). Dan barangsiapa yang mngerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula (8).

 

Ayat tersebut menegaskan bahwa manusia akan melihat amal perbuatannya, sekecil apapun amal itu, lebih lanjut Shihab menjelaskan bahwa kata amal yang dimaksud disini adalah termasuk pula niat-niat seseorang, amal adalah penggunaan daya manusia dalam bentuk apapun, yaitu daya hidup (yang melahirkan semangat untuk menghadapi tantangan), daya fikr (yang menghasilkan ilmu dan teknologi), daya qalbu (yang menghasilkan niat, imajinasi, kepekaan dan iman) dan daya fisik (yang melahirkan perbuatannya nyata dan keterampilan).

c.       Prinsip objektifitas

Prinsip ini mendorong guru supaya tidak dipengaruhi hal-hal yang bersifat emosional dan irasional atau terlepas dari hal-hal yang subyektif, ayat yang berkenaan dengan prinsip ini Q.S al-Maidah: 8.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (al-Maidah, 8).

          Perlunya prinsip diungkapkan pada Q.S. am-Nahl: 90

۞ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran (an-Nahl: 90).

Ayat yang paling sempurna dalam penjelasan segala aspek kebaikan dan keburukan. Allah secara terus menerus memerintahkan siapapun diantara hamba-hambanya untuk berlaku adil dan sikap, ucapan dan tindakan walau terhadap diri sendiri dan menganjurkan berbuat ihsan, yakni lebih utama dari keadilan dan juga oemberian apapun yang dibutuhkan dan sepanjang kemampuan lagi dengan tulus kepada kaum kerabat dan kepada Allah. Dia melarang segala macam dosa lebih-lebih perbuatan keji, demikian juga kemungkaran yakni hal-hal yang bertentangan dengan adat istiadat, yang sesuai dengan nilai-nilai agama dan melarang juga penganiayaan yakni segala sesuatu yang melampaui batas kewajaran.


 

BAB III

PENUTUP

 

KESIMPULAN

Rangkaian akhir dari suatu proses kependidikan Islam adalah evaluasi. Berhasil atau tidaknya pendidikan Islam dalam mencapai tujuannya dapat dilihat setelah dilakukannya evaluasi terhadap output yang dihasilkannya. Karena itu secara umum dapat dikemukakan kegunaan evaluasi dalam pendidikan Islam.

Evaluasi pendidikan mempunyai kedudukan yang sangat strategis karena hasil dari kegiatan evaluasi dapat digunakan sebagai input untuk melakukan perbaikan dalam kegiatan belajar.

Dalam pebaikan kegiatan belajar sangat mempengaruhi penggunaan daya manusia dalam bentuk apapun, yaitu daya hidup (yang melahirkan semangat untuk menghadapi tantangan), daya fikr (yang menghasilkan ilmu dan teknologi), daya qalbu (yang menghasilkan niat, imajinasi, kepekaan dan iman) dan daya fisik (yang melahirkan perbuatannya nyata dan keterampilan).






 

DAFTAR PUSTAKA

 

Al Rasyidin, Falsafah Pendidikan Islami , (Medan, Perdana, 2010), hlm 181.

 

Nazar, M, Al Masri, Evaluasi Menurut Filsafat Pendidikan Islam,Dialog: Jurnal Filsafat Pendiikan Islam, STAI AL AZHAR, Pekanbaru.

 

Kirana, Tiara, Evaluasi Pendidikan Islam, Bandung, Universitas Islam Nusantara, 2017.

 

Nuryamin, Hakikat Evaluasi: Perspektif Filsafat Pendidikan Islam, Jurnal Filsafat Pendidikan Islam.

Syahril, Konsep Evaluasi Pendidikan Dalam Perspektif Al-Qur’an, Jurnal Hunafa Vol 4, No.4, Desember 2007.

 

Hasmiati, Kedudukan Evaluasi Dalam Pendidikan Islam, Jurnal: Al-Qalam, volume 8 Nomor 1, 2016.

 

Maunah, Binti, “Ilmu Pendidikan”, (Yogyakarta: TERAS, 2009).

Nurmawati, “Evaluasi Pendidikan Islam”, (Bandung: Citapustaka Media, 2016).


[1] Al Rasyidin, “Falsafah Pendidikan Islami”, (Medan, Perdana, 2010), hlm 181.

[2] M. Nazar Al Masri, Evaluasi Menurut Filsafat Pendidikan Islam,Dialog: Jurnal Filsafat Pendiikan Islam, STAI AL AZHAR, Pekanbaru, hlm 1.

[3] Tiara Kirana, “Evaluasi Pendidikan Islam”, (Bandung, Universitas Islam Nusantara, 2017), hlm 3.

[4]  M. Nazar Al Masri, Evaluasi Menurut Filsafat Pendidikan Islam,Dialog: Jurnal Filsafat Pendiikan Islam, STAI AL AZHAR, Pekanbaru, hlm 5.

[5] Nuryamin, Hakikat Evaluasi: Perspektif Filsafat Pendidikan Islam, Jurnal Filsafat Pendidikan Islam. Hlm 5.

[6] Syahril, Konsep Evaluasi Pendidikan Dalam Perspektif Al-Qur’an, Jurnal Hunafa Vol 4, No.4, Desember 2007: 305-320. Hlm 4.

[7] Hasmiati, Kedudukan Evaluasi Dalam Pendidikan Islam, Jurnal: Al-Qalam, volume 8 Nomor 1, 2016. Hlm 13.

[8] M. Nazar Al Masri, Evaluasi Menurut Filsafat Pendidikan Islam,Dialog: Jurnal Filsafat Pendiikan Islam, STAI AL AZHAR, Pekanbaru, hlm 9.

[9] Binti Maunah, “Ilmu Pendidikan”, (Yogyakarta: TERAS, 2009), 57.

[10] Nurmawati, “Evaluasi Pendidikan Islam”, (Bandung: Citapustaka Media, 2016) 47.


Posting Komentar

0 Komentar