Kata-Kata Bijak Dalam Secangkir Kopi - Negeri Pengarang Rindu


(Oleh : Raf Soemitro) 

Selamat sore duhai kasihku, sudah berapa tahun kita saling memendam rasa dalam negeri masing-masing. Sudahkah engkau menemukan apa yang kamu harapkan ?. 

Kita saling mengeja diksi-diksi masing-masing, sengaja saling merangkai aksara demi aksara untuk di persembahkan pada sang kekasih.

Aku selalu persembahkan aksara itu untukmu, entah dengan balutan rindu, suka maupun duka tentangmu selalu ku tuangkan dalam rangkaian aksara. Namun, aku menyadari diksi-diksi yang kau sembahkan dalam beranda medsosmu bukanlah untukku. Aku hanyalah penikmat senyumanmu seorang diri, yang tanpa pamit denganmu melahirkan aksara demi aksara untuk di persembahkan padamu. 

Ku yakini, hari telah berlalu dan engkau masih dengan yang dulu. Menolak kedatanganku dengan rayuan manismu agar aku tak tersinggung atas pentasbihanmu pada diriku. 

Aku seperti orang yang telah di fatwa dan  tervonis untuk mencintaimu. Meskipun berulang-ulang kali kau melontarkan dakwaanmu, aku tetap saja seperti orang bodoh yang tak merasa bersalah atas hal mencintaimu. Tetap berjuang meraih asa, meskipun takdir sekali lagi tak memihakku. 

Mungkin aku seperti orang dungu, tak mendengar apa yang kau katakan. Aku hanya membisu dan terus membisu, hanya mengatakan dalam negeriku, suatu saat pasti aku dapat berjumpa dengan negerimu. Bersama-sama membangun dan merawat negeri kita menjajahi dunia hingga pada akhirnya kita mendulang kebahagian yang direstui Sang  Pemilik Jagat Raya ini. 

Itulah hatiku, tahta negeriku yang telah memberikan sabdanya padaku, untuk mencintaimu sampai kapanpun. Setiap hari, berbulan-bulan, dan bertahun-tahun negeriku sedang dirundung duka, mengharapkan negerimu menjadi bagian negeriku yang telah lama mendambakan bersua denganmu di mahligai cinta yang sesungguhnya. 

Tulungagung, 19 Juli 2020

Posting Komentar

0 Komentar