pengertian Evaluasi, Assesment, Pengukuran, dan tes dalam Konsep Dasar Evaluasi Pembelajaran


Pendidikan merupakan sebuah progam. Progam melibatkan sejumlah komponen yang bekerja sama dalam sebuah proses untuk mencapai tujuan yang diprogamkan. sebagai sebuah progam, pendidikan merupakan aktivitas sadar dan sengaja yang diarahkan untuk mencapai suatu tujuan. Untuk mengetahui apakah penyelenggaraan progam dapat mencapai suatu tujuan. Untuk mengetahui apakah penyelenggaraan progam dapat mencapai tujuannya secara efektif dan efisien, maka perlu dilakukan evaluasi. Untuk itu evaluasi dilakukan atas komponen-komponen dan proses kerjanya sehingga apabila terjadi kegagalan dalam mencapai tujuan dapat ditelusuri komponen dan proses proses yang menjadi sumber kegagalan.
Kemampuan melaksanakan evaluasi pembelajaran merupakan kemampuan dasar yang mesti dikuasai oleh seorang pendidik  maupun calon pendidik sebagai salah satu kompetensi profesionalnya.
Evaluasi pembelajaran merupakan satu kompetensi professional seorang pendidik. Kompetensi tersebut sejalan dengan instrument penilaian kemampuan guru, yang salah satu indikatornya adalah melakukan evaluasi pembelajaran.

Evaluasi Pembelajaran

Penyelenggaraan pengajaran pada umumnya –termasuk di dalam pengajaran bahasa –evaluasi memiliki tempat dan peranan yang terkait langsung, dan bahkan merupakan bagian tak terpisahkan dari pengajaran itu. Dalam teori penyusunan dan perencanaan pengajaran, pengajaran digambarkan sebagai suatu proses yang terdiri dari tiga komponen utama yang tidak terpisahkan satu dengan yang lain. Ketiga komponen itu adalah tujuan pengajaran, pelaksanaan pengajaran dan penilaian hasil pengajaran. Ketiganya memiliki hubungan yang erat satu sama lain, baik secara langsung dalam hubungan sebab akibat, maupun secara tidak langsung dalam bentuk umpan balik. Hubungan timbal balik antar komponen penyelenggaraan pengajaran semacam itu dapat digambarkan sebagai bersifat bolak balik, seperti dalam gambar beriku ini.



Pengertian evaluasi

Secara etimologi evaluasi berasal dari bahasa Inggris, evaluation. Kata evaluation berasal dari kata value yang berarti nilai atau harga. Dalam bahasa Arab valuation berarti tatsmiim, taqyiim atau taqdir. Kata evaluation juga berasal dari kata kerja yakni to evaluate  yang berarti menilai. Evaluasi juga dapat diartikan sebagai upaya untuk menilai sesuatu menggunakan kriteria tertentu. Dengan demikian secara harfiah evaluasi pendidikan atau taqdir al- Tarbawiy dapat diartikan sebagai penilaian dalam pendidikan atau penilaian mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan.

Evaluasi dalam wacana keislamanan terdapat beberapa padanan kata. Kata-kata tersebut adalah; al- Hisab yang berarti perkiraan, penafsiran, perhitungan. Al- bala’ yang berarti percobaan dan pengujian, al- hukm  yang berarti pemutusan, al- qadha yang berarti keputusan, al- Nazhr yang berarti penglihatan dan al- imtihan yang berarti pengujian. 
Evaluasi adalah suatu proses merencanakan, memperoleh dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat alternative-alternatif keputusan. Dengan demikian kegiatan evaluasi merupakan proses yang sengaja direncanakan untuk memperoleh informasi ataudata untuk kemudian membuat suatu keputusan.

Norman E. Gronlund dalam Purwanto memaparkan kegiatan pengajaran dinyatakan bahwa pengertian evaluasi adalah sebagai berikut: “Evaluation … a systematic process of determining the extent to wich instructional objectives are achieved by pupils”. (evaluasi adalah suatu proses yang sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan sampai sejauh mana tujuan-tujuan pengajaran bahasa telah tercapai oleh siswa.

Evaluasi menurut pendidikan Islam ialah cara atau upaya penilaian tingkah laku peserta didik berdasarkan perhitungan yang bersifat menyeluruh, meliputi aspek-aspek psikologis adan spiritual, karena pendidikan Islam tidak hanya melahirkan manusia didik yang berilmu saja atau bersikap religious saja namun juga manusia didik yang memiliki keduanya yakni manusia didik yang berilmu serta bersikap religious, beramal baik dan berbakti kepada Tuhan serta Masyarakat. Dengan demikian evaluasi yang diterapkan pendidikan Islam bukan hanya sekedar menilai sesuatu dengan terencana, sistematik, berdasarkan tujuan yang jelas dan komprehensif mencakup keseluruhan aspek yang ada dalam siswa baik secara psikologi, religious maupun segi keilmuan.

Aspek- Aspek dalam evaluasi Pengajaran
Beberapa definisi di atas setidaknya ada tiga aspek yang perlu diperhatikan berkaitan dengan evalauasi pengajaran, yaitu:

Kegiatan evalausi merupakan proses yang sistematis. Ini berarti bahwa evaluasi merupakan kegiatan yang terencana dan dilakukan secara berkesinambungan. Evaluasi bukan sekedar kegiatan akhir dan penutup suatu progam, tetapi merupakan kegiatan yang dilaksanakan di awal, selama progam dan pada akhir progam pengajaran.

Dalam kegiatan evaluasi dibutuhkan berbagai informasi/ data yang menyangkut obyek yang sedang dievaluasi. Dalam kaitan dengan pengajaran, data yang dimaksud dapat berupa perilaku/ penampilan siswa selama mengikuti pelajaran, hasil ulangan/ tugas pekerjaan rumah, nilai ujian akhir catur wulan, nilai mid semester, nilai akhir semester, dan sebagainya.

Kegiatan evaluasi pengajaran tidak terlepas dengan tujuan-tujuan pengajaran. Karena setiap kegiatan penilaian memerlukan suatu kriteria tertentu sebagai acuan dalam menentukan batas ketercapaian obyek yang dinilai.

Berkaitan dengan keseluruhan proses belajar-mengajar, tujuan pengajaran dan prosedur evaluasi, ketiganya tak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Secara jelas dapat digambarkan berikut ini:

Bahan/ materi apa yang akan diajarkan dan metode apa yang akan digunakan kushusnya dalam pelajaran bahasa Arab bergantung pada tujuan pengajaran yang ingin dicapai. Demikian juga bagaiman prosedur evaluasi harus dilakukan serta bentuk-bentuk tes/ alat evaluasi mana yang akan dipakai untuk menilai hasil pengajaran tersebut harus dikaitkan dengan mengacu pada bahan dan metode mengajar yang digunakan dan tujuan pengajaran yang telah dirumuskan.

Assesment

Istilah asesmen (assessment) diartikan oleh Stiggins dalam Wulan sebagai penilaian proses, kemajuan, dan hasil belajar siswa (outomes). Sementara itu asesmen diartikan dengan “The process of collecting data wich shows the development of learning”. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa asesmen merupakan istilah yang tepat untuk penilaian proses belajar siswa. Namun meskipun proses belajar siswa merupakan hal penting yang dinilai dalam asesmen, factor hasil belajar juga tetap tidak dikesampingkan.

Gabel dalam Wulan mengkategorikan asesmen ke dalam kedua kelompok besar yaitu asesmen tradisional dan asesmen alternative. Asesmen yang tergolong tradisional adalah tes benar –salah, tes pilihan ganda, tes melengkapi, dan tes jawaban terbatas. Sementara itu yang tergolong ke dalam asesmen akternatif (non –tes) adalah essay/uraian, penilaian oleh teman sebaya/sejawat. Penilaian diri (self assessment), portofolio, observasi, diskusi dan interview (wawancara).

Wiggins dalam Wulan juga menyatakan bahwa asesmen merupakan sarana yang secara kronologis membantu guru dalam memonitor siswa. Oleh karena itu, maka Popham dalam Wulan menyatakan bahwa asesmen sudah seharusnya merupakan bagian dari pembelajaran, bukan merupakan hal yang terpisahkan. Pada hakikatnya asesmen menitikberatkan penialian pada proses belajar siswa. Penguasaan konsep siswa, asesmen tidak hanya mengungkap konsep yang telah dicapai, akan tetapi juga tentang proses perkembangan bagaimana suatu konsep tersebut diperoleh. Dalam hal ini asesmen tidak hanya dapat menilai hasil dan proses belajar siswa, akan tetapi juga kemajuan belajarnya.

Pengukuran

Pengukuran dipandang sebagai suatu kegiatan yang ilmiah dan dapat diterapkan dalam berbagai bidang persoalan termasuk ke dalamnya bidang pendidikan dan pengajaran. Pengukuran, menurut model ini tidak dapat dilepaskan dari pengertian kuantitas atau jumlah. Jumlah ini akan menunjukkan besarnya (magnitude) obyek, orang ataupun peristiwa yang dilukiskan dalam bentuk unitunit ukuran tertentu seperti misalnya menit, derajat, meter, percentile dan sebagainya, sehingga dengan demikian hasil pngukuran itu selalu dinyatakan dalam bentuk bilangan.

Obyek kegiatan evaluasi model ini adalah tingkah laku siswa, yang mencakup kemampuan hasil belajar, kemampuan pembawaan (intelegensi, bakat), minat, sikap dan juga spek-aspek kepribadian siswa. Singkatnya, obyek evaluasi itu mencakup baik aspek kognitif yang meliputi berbagai tingkat kemampuan seperti kemampuan ingatan, pemahaman aplikasi, dan sebagainya yang evaluasinya dapat dilakukan secara kuantitatif-obyektif dengan menggunakan prosedur yang dapat distandarisasikan.Alat evaluasi yang yang lazim digunakan dalam model evaluasi ini adalah tes tertulis atau paper and pencil test dalam bentuk tes obyektif yang soal-soalnya berupa pilihan ganda, menjodohkan, benar salah, dan sebagainya.


Tabel 2.1. Contoh Acuan Standar Penilaian Laporan Praktikum Siswa  Score Total : 85




Tes

Tes (test) merupakan suatu alat penilaian dalam bentuk tulisan untuk mencatat atau mengamati prestasi siswa yang sejalan dengan target penilaian. Jawaban yang diharapkan dalam tes menurut Sudjana dan Ibrahim dalam wulan dapat secara tertulis, lisan, atau perbuatan. Menurut Zainul dan Nasution dalam Wulan tes didefinisikan sebagai pertanyaan atau tugas atau seperangkat tugas yang direncanakan untuk memperoleh informasi tentang suatu atribut pendidikan atau suatu atribut psikologis tertentu. Setiap butir pertanyaan atau tugas tersebut mempunyai jawaban atau ketentuan yang dianggap benar. Dengan demikian apabila suatu tugas atau pertanyaan menuntut harus dikerjakan oleh seseorang, tetapi tidak ada jawaban atau cara pengerjaan yang benar dan salah maka tugas atau pertanyaan tersebut bukanlah tes.

Sebagaimana dikemukakan Sax dalam Arifin bahwa “a test may be defined as a task or series of task used to obtain systematic abservations presumed to be representative of educational or psychological traits or attributes”. (tes dapat didefinisikan sebagai tugas atau serangkaian tugas yang digunakan untuk memperoleh pengamatan-pengamatan sistematis, yang dianggap mewakili ciri atau atribut pendidikan atau psikologis). Istilah tugas dapat berbentuk soal atau perintah /surugan lain yang harus dikerjakan oleh peserta didik. Hasil kuantitatif ataupun kualitatif dari pelaksanaan tugas itu digunakan untuk menarik simpulan-simpulan tertentu terhadap peserta didik.

Tes merupakan salah satu upaya pengukuran terencana yang digunakan oleh guru untuk mencoba menciptakan kesempatan bagi siswa dalam memperlihatkan prestasi mereka yang berkaitan dengan tujuan yang telah ditentukan. Tes terdiri atas sejumlah soal yang harus dikerjakan siswa. Setiap soal dalam tes menghadapkan siswa pada suatu tugas dan menyediakan kondisi bagi siswa untuk menanggapi tugas atau soal tersebut.

Tes merupakan alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dengan menggunakan cara atau aturan yang telah ditentukan. Dalam hal ini harus dibedakan pengertian antara tes, testing, testee, tester. Testing adalah saat pada waktu tes tersebut dilaksanakan (saat pengambilan tes). Sementara testing menunjukkan proses pelaksanaan tes. Testee adalah responden yang mengerjakan tes. Mereka inilah yang akan dinilai atau diukur kemampuannya. Sedangkan Tester adalah seseorang yang diserahi tugas untuk melaksanakan pengambilan tes kepada responden.

Dewasa ini tes masih merupakan alat evaluasi yang umum digunakan untuk mengukur keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan pendidikan dan pengajaran. Seringkali skor tes ini dipergunakan sebagai satu-satunya indikator 4 dalam menilai penguasaan konsep, efektivitas metode belajar, guru serta aspek lainnya terhadap siswa di dalam praktek pendidikan. Padahal dengan mempergunakan tes, aspek kemampuan afektif siswa kurang terukur, sehingga sangatlah penting untuk tidak membuat generalisasi kemampuan siswa hanya melalui tes saja.
Berdasarkan pemaparan diatas dapat disimpulkan tes pada hakikatnya suatu alat yang berisi serangkaian tugas yang harus dikerjakan atau soal-soal yang harus dikerjakan atau soal-soal yang harus di jawab oleh peserta didik untuk mengukur suatu aspek perilaku tertentu. Artinya fungsi tes adalah sebagai alat ukur. Dalam tes prestasi belajar, aspek perilaku yang hendak diukur adalah tingkat kemampuan peserta didik dalam menguasai materi pelajaran yang telah disampaikan.


DAFTAR PUSTAKA

Asrul, Rusydi Ananda, Rosnita, 2014, Evaluasi Pembelajaran, Bandung: Citapustaka Media.

Djiwandono, Sunardi, 1996, Tes Bahasa dalam Pengajaran, Bandung: Penerbit ITB.

Mega Sari, Lia, 2018, Evaluasi Dalam Pendidikan Islam, Jurnal: Pendidikan Islam, Volume 9, No 2 2018.

Ngalim Purwanto, M, 2004, Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, Bandung: PT Rosdakarya.

Daryanto, Evaluasi Pendidikan, 2001, Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Ratna Wulan, Ana, 2007, Pengertian Dan Esensi Konsep Evaluasi, Asesmen, Tes, dan Pengukuran, Jurnal: Pendidikan. Volume 20, No 5.

Zainal Arifin, 2012, Evaluasi Pembelajaran, Jakarta Pusat: Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI.


Posting Komentar

0 Komentar